Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Konsekuensi yang Harus Diterima

Selama enam tahun belajar di pesantren dan setahun mengabdi di salah satu lembaga di daerah pantura di Pamekasan, saya mendapat konsekuensi yang memang seharusnya saya terima. Interaksi saya dengan teman-teman di sekitaran rumah ini menjadi berkurang dan lambat laun menjauh dengan alasan kesibukan masing-masing. Padahal sebelum tahun 2017, semua itu terasa sangat indah dan menyenangkan. Kami kemana-mana bersama, menghabiskan akhir pekan di alun-alun, mandi di sungai saat jam istirahat madrasah, main PS kelamaan sampai orangtua marah sambil mengangkat sapu bilang, ‘Main PS mloloh, pas ta’ engak se moleyah!!’ Seiring berjalannya waktu, semua itu hanya menjadi kenangan semata. Sekarang kita bisa saja membeli 10 bola plastik di warung, tapi kita tidak bisa membeli momen keseruan kita saat bermain bola waktu kecil. Itu mahal sekali, dan tidak ada satupun warung yang menjualnya. Kalau memang ada, sepertinya warung itu akan jadi saingan Warung Madura yang buka 24 jam yang katanya...

Punya Temen Polos dan Bisu, Namanya...

Saya suka menulis diary. Bukan yang habis makan pedes-pedes terus ke toilet itu ya, itu diare. Ini diary, atau catatan harian. Dalam catatan itu saya bercerita tentang kegiatan keseharian saya yang ragam suka dan duka. Karena waktu itu saya masih di pesantren, maka dengan padatnya kegiatan di sana saya berusaha menyempatkan diri menulis pada sore hari sebelum maghrib berkumandang. Habis mandi sekitar jam 4 sore (yang kemudian oleh keluarga saya dikomen, ‘apa gak terlalu awal kamu mandinya?’) saya akan ganti baju dan bersiap ke pasarean. Karena tidak bisa mengaji ke pasarean 3 kali sehari, maka yang satu ini sangat-sangat saya usahakan. Nah habis dari pasarean itu saya ke masjid dan duduk di tempat istiqomah, bersandar pada pilar masjid atau orang Madura biasa menyebutnya ‘Pang-pang’. (Padahal di sisi lain ‘Pang-pang’ juga nama jajan. Tapi pang-pang yang ini gak bisa dimakan. Emang ada yang makan pilar masjid?) setelah duduk, saya membuka buku diary dan mulai menulis catatan...