Selama enam tahun belajar di pesantren dan setahun mengabdi di salah satu lembaga di daerah pantura di Pamekasan, saya mendapat konsekuensi yang memang seharusnya saya terima. Interaksi saya dengan teman-teman di sekitaran rumah ini menjadi berkurang dan lambat laun menjauh dengan alasan kesibukan masing-masing. Padahal sebelum tahun 2017, semua itu terasa sangat indah dan menyenangkan. Kami kemana-mana bersama, menghabiskan akhir pekan di alun-alun, mandi di sungai saat jam istirahat madrasah, main PS kelamaan sampai orangtua marah sambil mengangkat sapu bilang, ‘Main PS mloloh, pas ta’ engak se moleyah!!’ Seiring berjalannya waktu, semua itu hanya menjadi kenangan semata.
Sekarang kita bisa saja membeli 10 bola plastik di warung, tapi kita tidak bisa membeli momen keseruan kita saat bermain bola waktu kecil. Itu mahal sekali, dan tidak ada satupun warung yang menjualnya. Kalau memang ada, sepertinya warung itu akan jadi saingan Warung Madura yang buka 24 jam yang katanya kiamat nanti masih buka setengah hari.
Saya sama sekali tidak masalah dengan situasi itu. Karena pastinya, jalan yang kami tempuh tidak selalu sama. Saya yakin semua teman saya ingin sukses, baik di dunia dan akhirat. Namun jalan yang akan menghantarkan saya dan teman-teman saya untuk menuju sukses itu pasti berbeda. Ada yang sejalan, contohnya yang kuliah ke IAIN Madura. Sejalan kan? Dari perempatan Asri itu lurus ke selatan. Cuma nanti pas sampe di kampus beda-beda. Ada yang Ushuluddin, Tarbiyah, Ekonomi, Hukum. Yang kuliah ke UNIRA juga sejalan, dari perempatan Asri itu lurus ke selatan. Bedanya kalo ke IAIN Madura masih terus lurus, ini belok kiri. Ada juga yang kerja, merantau ke luar kota atau ke negeri orang, sesekali saya lihat instastory-nya berpose bersama teman kerjanya.
Semua sudah pada dewasa dan berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing. Saya hanya bisa berdoa semoga kita semua bisa mencapai apa yang diinginkan dan selalu dalam lindungan tuhan. Tak lupa pula berharap semoga tidak ada ajakan main PS lagi. Bukannya takut dimarahi orangtua, tapi trauma sama more and more-nya. 😁
Komentar
Posting Komentar