Dalam diary, saya membahas banyak hal. Kadang tentang kegiatan di sekolah, ajian kitab kuning, saya yang disanksi baca Al-Qur’an di depan kantor pesantren karena ketahuan tidak berjamaah subuh, curhat karena sandal hilang, sok-sok membahas politik Indonesia (cih), tentang kerinduan pada kampung halaman, atau membahas hal-hal random seperti kenapa cewek pas pakai maskara mulutnya gak bisa ditutup? Yah, saya menganggap diary adalah bagian dari teman saya. Kenapa saya bilang begitu? kan, diary tidak bisa pantun ‘agar silaturrahmi tidak terputus, pinjam dulu seratus?’ Pertama, saya suka berteman dengan diary karena dia polos dan selalu mendengar dan menerima apa saja yang saya tuliskan. Dia tidak pernah lupa akan semua cerita saya, kecuali saya hapus pake tipe-x. Kedua, karena dia bisu. Dia tidak berkomentar apa-apa tentang semua keluh kesah saya dan juga tidak bisa berpantun seperti pantun yang diatas. Walaupun saya sering menitipkan uang saya di buku, itu tidak berarti diary sedang 'pinjam dulu seratus' ke saya. Hanya sebagai ganti dompet. Karena saya lebih sering bawa buku daripada bawa dompet. Itupun tidak bawa dompet karena tidak ada uang 🥲. Tapi standar pertemanan saya dengan diary tidak bisa dipakai jika untuk manusia. Diary kan bukan manusia, tidak memiliki hati. Kalau berteman dengan makhluk hidup ya tidak bisa disamakan dengan itu. Saya harus saling pengertian satu sama lain.
Karena rutin menulis diary setiap hari, otomatis jika buku sudah full saya beli lagi. Dari semua perjalanan saya di pesantren hingga saat ini, telah terkumpul sekitar 7 buku diary yang sekarang berjejer di perpustakaan super-mini saya. Sebenarnya bisa jadi lebih dari 7, tapi karena faktor hilang, jadi yang sempat saya bawa boyong ke rumah hanya yang 7 itu. Dan saya bersyukur punya buku catatan. Dengan buku itu saya malah suka tertawa dan geli sendiri saat isinya dibaca lagi. Bernostalgia. Saya sadar bahwa buku ini akan menjadi aset paling berharga nanti ketika saya sudah tua. Karena ada pepatah mengatakan, “Scripta Volan Verba Manent” artinya, yang terucap akan hilang dimakan waktu, sedangkan yang tertulis akan terus mewaktu dari waktu ke waktu. Bahkan Chairil Anwar dalam puisinya berkata, “Aku mau hidup seribu tahun lagi” itu bisa. Malah sangat bisa. Melalui karya-karyanya, Chairil Anwar tetap ‘hidup’ meski dia sudah mati.
Paham kan? Kalo belum paham silahkan tonton VT-nya Kak Gem. Nanti pasti dikasih paham.
Komentar
Posting Komentar