Saya menyukai dunia tulis menulis sejak masih berada di pesantren. Pada tahun 2017, saya dihantarkan oleh keluarga dan beberapa tetangga naik bus mini ke pondok pesantren dimana saya akan menimba ilmu. Saya mondok berdua dengan teman. Tapi di pertengahan tahun kedua dia berhenti dan saya hidup sendirian tidak memiiki teman yang sekampung. Sedih, tapi saya tidak mau gugur hanya karena alasan itu. Saya sekamar dengan teman-teman yang notabene-nya berasal dari pantura. Ada dari Tamberu, Karang Anyar, Ketapang, Sokobanah dan lain-lain. Maka tidak heran jika pernah sesekali saya dianggap berasal dari tempat yang sama dengan mereka. Padahal yang bilang itu rumahnya dekat dengan saya.
Saya cukup dekat dengan orang Karang Anyar yang sekamar dengan saya waktu itu. Ada kak Badrut, kak Naqib, kak Sholeh dan beberapa lainnya yang sudah agak lupa karena memang ini sudah lama sekali. Di suatu saat, saya tak sengaja membaca buku milik kak Badrut, dan waktu itu orangnya sedang tidak ada. Kebetulan ada kak Naqib saya pun bertanya terkait buku itu. Kurang lebih seperti ini percakapannya.
“Kak, aku baca bukunya kak Badrut, dia ini nulis apa ya?” Tanya saya, kak Naqib mengambil dan membaca bukunya.
“Oh, ini diary. Kak Badrutnya suka nulis kayak gini. Dia kan pengurus FLP.” Kak Naqib menjawab seperti itu, saya jadi muncul pertanyaaan lagi.
“Emang FLP itu apa?”
“FLP itu organisasi nulis, kalo kamu mau ikut bilang sana sama kak Badrutnya.” Kata kak Naqib begitu.
Singkat cerita, saya pun mendaftar dan masuk organisasi FLP yang ternyata adalah singkatan dari Forum Lingkar Pena.
Dalam istilahnya, Forum Lingkar Pena di pesantren saya memiliki 2 peminatan. 2 peminatan itu berupa non-fiksi dan fiksi. Fiksi dibagi menjadi dua. Pertama cerpen dan kedua puisi. Non-fiksi berarti karya ilmiah seperti artikel dan lain-lain. Di sini saya mengambil peminatan fiksi dan cerpen. Hal itu didasari karena saya suka baca cerita. Contohnya dulu mbak saya ulang tahun dibelikan buku cerita “Menanak Batu” dan saya suka membacanya. Saat saya ulang tahun, saya malah dibelikan buku “Tebak-tebakan SMS Nyengir” maka jangan heran jika saya slengean. Ya, dari kecil saja bacaannya sudah seperti itu.
Dengan begitu banyak suka-duka, saya berproses di FLP, belajar menulis, aktif membaca, ikut berdebat dan berdiskusi, ikut lomba menulis cerpen, mengenal orang-orang hebat lewat membaca buku, bertemu penulis-penulis handal dan banyak lagi lainnya. Bahkan bisa jalan-jalan ke luar kota hanya dengan bakat menulis. Waw. Itu pengalaman hidup yang sangat tidak pantas jika saya lupakan begitu saja.
Komentar
Posting Komentar