![]() |
Saat ini,
saya sedang ada di kondisi menolak sekian tawaran dari orang untuk melakukan
sesuatu. Kecuali projek desain dan info ngopi dari sobat karib. Tentunya ini masalah
kepentingan, baik individu atau kelompok. Kalau teman-teman saya membaca ini,
saya yakin mereka paling tidak bisa menebak arahnya kemana.
Dari hati
yang dalam (ya, gak terlalu dalam banget sih), manusia berhak membuat pilihan.
Karena saya manusia, orang-orang itu juga manusia, semuanya berhak untuk hal
yang sama. Jadi, semua ini hanya tentang menghormati pilihan manusia lain saja.
Pastinya,
segala sesuatu terjadi karena ada alasan yang mendasari. Saya ngulik Corel
sampe tengah malam alasannya karena ada projek. Pak ustad pagi-pagi habis subuh
baca nama-nama almarhum di toa masjid, itu karena ada khotmil qur’an. Beberapa
waktu lalu, orang-orang sengaja nunda sholat Isya karena mau nonton Valen DA7.
Tapi apakah alasan-alasan itu harus semua orang tau? Yah, bisa jadi memang
penting untuk semua orang tau. Orang nunda sholat Isya bukan hanya karena mau
nonton Valen DA7, bisa jadi ya karena memang males sholat aja orangnya.
Dan
alasan saya apa sebenarnya? Saya bisa saja kok, ikut semua yang dikatakan
orang-orang. Berangkat ke manapun jalan dibukakan. Tapi itu memang harus
tergerak dari hati. Saya banyak mikir untuk melangkah, karena hanya takut
sia-sia. Kalau ada pihak yang merasa saya pernah memberi harapan, sorry to
say, kepentingan kita belum sama. Tapi jika memang tergerak untuk sesuatu
tertentu, saya usahakan sebaik dan semampu yang saya bisa. Poinnya adalah, saya
belum mau diatur untuk kepentingan yang saya sendiri belum merasa itu juga
penting untuk saya.
“Kenapa
takut sia-sia? Kan gaada salahnya mencoba? Hitung-hitung pengalaman” Begitu mungkin pertanyaan orang-orang. Tapi
tolong, jangan pukul rata. Penjual gorengan bersyukur saat hujan turun,
sementara penjual es mungkin sedang menghela napas panjang. Keduanya benar,
hanya cara cara pandangnya yang berbeda.
Sayangnya
saya tidak menceritakan alasan ini secara langsung ke orang bersangkutan. Kenapa
begitu? Pertama, karena saya menganggap
bahwa saya tidak sepenting dan seperlu itu untuk menjelaskan kepada mereka. Kedua,
saya sadar diri. Sebelum semua itu terjadi, saya melihat terlebih dahulu
bagaimana track record saya sebelumnya; memantaskan diri. Dan ternyata,
tidak begitu cocok juga kalau dibilang pantas, apalagi bagus. Ketiga, entah
sejak kapan saya punya mindset ini. Saya ingin tenang dari sesuatu yang
sifatnya dikejar, terkejar, mengejar. Gen Z menyebutnya mageran. Huhu.
Tapi semuanya
aman. Kehidupan tetap berjalan dengan segala suka-dukanya. Mari lakukan yang
baik, dalam versi kita masing-masing. Dan kurang lebih 37 hari lagi (per hari
ini, 12 Januari 2026) kita akan bertemu dengan Ramadhan 1447,
pastikan teman-teman ingat niat puasa dan sholat tarawih ya.
(Judul dibuat oleh AI)

Komentar
Posting Komentar