Langsung ke konten utama

Hilang untuk Healing: Tiga Hari yang Mengajarkan Arti Pulang

 

Meja-meja terisi pelanggan. Satu-dua kelompok bermain domino, menonton pertandingan sepak bola, mengobrol sambil sesekali menyeruput kopi. Setelah seharian beraktivitas, orang-orang kelelahan ini bertemu untuk saling berbagi rasa semangat, lalu saling mengingatkan bahwa besok kita masih hidup dan akan berjuang lagi.

Ini sebuah awal dari tiga hari yang bermakna dalam perjalanan hidup kami. Hari di mana kami sadar tentang pentingnya solidaritas dan relasi. Semua dimulai di warung kopi, tempat saya dan teman-teman melepas penat dari kesibukan perkuliahan. Melihat betapa membosankannya libur kuliah yang hanya diisi keluar masuk warung kopi, kami merencanakan pelarian ke Yogyakarta. Niat hati agar bisa refreshing dan sesekali ke luar Madura.

Kami—Alan, Ikhtiar, Adan, dan Fikri—sudah saling mengenal di pesantren sejak tahun 2022, yang kemudian bertemu kembali dalam satu almamater yang sama, UIN Madura. Rencana ini kami beri nama Hilang untuk Healing. Saya urus rencana perjalanan, Adan dan Ikhtiar bagian relasi, Fikri dokumentasi.

“Di Jogja ada kakak sepupuku, kita bisa numpang di sana. Gak perlu nyewa kosan, duit kita pas-pasan,” ujar Adan saat ditanya di mana kami akan menginap.

“Emang kita mau berapa hari?” tanya Fikri, si paling bungsu. Waktu itu dia masih mahasiswa baru.

“Tiga hari empat malam sudah cukup. Kalau mau lebih lama, sekalian daftar kurir Shopee,” celetuk Ikhtiar. Semua tertawa sampai dilihat oleh pengunjung warung lainnya.

Rencana perjalanan pun dibuat. Kami menghabiskan waktu berjam-jam menyaring tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Kami menyeleksi, berdiskusi, dan kemudian memutuskan—dalam tiga hari empat malam itu—kami akan ke Malioboro, Keraton Yogyakarta, Kopi Merapi, tour kampus UIN Sunan Kalijaga, dan beberapa tempat lainnya. Tanggal pun ditetapkan, kami akan bertemu Jogja dari 09 hingga 12 Februari 2026.

Kurang dari satu minggu sebelum keberangkatan, kami mulai memesan tiket kereta serta menghubungi teman-teman di Jogja. Berharap ada yang mau menjadi tour guide selama kami di sana. Selain karena kami tidak tahu jalan, kakak sepupu yang menampung kami tidak bisa menemani karena ada kesibukan.

“Nasir bisa bantu kita selama di sana, sudah aku hubungi,” kata Ikhtiar. Nasir adalah teman pondok yang kuliah di UIN Sunan Kalijaga, orang yang berjasa karena mau menemani kami saat di Jogja. Kami sudah akrab sejak di pesantren, yang kemudian terpisah karena beda kampus saja.

Saat semua hal sudah dikonsep dengan matang, sehari sebelum kami berangkat ada kabar yang mengagetkan. Satu dari kami secara tiba-tiba mengonfirmasi batal berangkat, karena orang tuanya sakit dan tidak sepakat.

“Adan batal ikut, penyakit bapaknya kambuh,” Ikhtiar mengabari lewat chat pribadi. Kami memutar otak, rencana perjalanan di ujung tanduk. Adan satu-satunya yang menjadi pintu kami dengan kak Alfan, orang baik yang bersedia memberikan kami tempat peristirahatan.

“Kayaknya batal aja healing-healing ini,” kata saya. Merasa putus asa dan kebingungan mencari solusi. Ikhtiar hendak membatalkan tiket dan meminta uang kompensasi, membiarkan Jogja hilang terbawa oleh angin musim hujan kala itu.

“Lanjut aja gapapa. Masalah kak Alfan itu gampang, udah dijelaskan kondisinya bagaimana. Dia pasti bantu,” ungkap Adan. Dengan pertimbangan yang matang, kami bertiga memutuskan untuk tetap berangkat. Komunikasi dengan orang baik satu ini diambil alih oleh Ikhtiar.

Di perjalanan menuju Gubeng—stasiun keberangkatan kami—Adan menanyakan update perjalanan via grup WhatsApp. Kami waktu itu sedang dalam keadaan tidak menentu. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Perasaan mengambang ini bahkan kami bingung disebut apa.

“Amaan. Gas atur jadwal lagi. Kamu wajib ikut,” jawab Ikhtiar. Di sebelahnya, saya dan Fikri mengamini.

***

Kurang lebih lima jam perjalanan kereta Surabaya-Yogyakarta, kami sampai di tempat kak Alfan. Yang kami temukan bukan rumah kost, melainkan masjid megah yang berdiri di tengah tenangnya kehidupan Yogyakarta. Kak Alfan seorang takmir masjid, kami akrab pada pertemuan pertama. Saling bertukar cerita, pengalaman, rencana perjalanan, dan lainnya.

Kami disiapkan tempat untuk istirahat, kamar mandi, sepeda motor, helm, dan yang terpenting, kami dibekali tips dan trik bagaimana berperilaku yang benar. Bukan karena kami tidak memiliki adab, tapi karena masing-masing tempat memiliki kebiasaan dan budaya yang berbeda.

“Di Madura, gak pake helm itu kan biasa. Kalau di sini, malu. Orang-orang pake helm itu selain karena keselamatan, juga karena budaya patuh peraturan. Gaenak kan kalau misal sendirian gak pake helm, sedangkan yang lain pake,” jelas kak Alfan. Kami mengangguk setuju.

Keesokan harinya kami diarahkan ke kampus UIN Sunan Kalijaga, menemui Nasir yang baru saja selesai acara. Dari situ kami mulai bertemu dengan teman-teman lama dari pesantren. Saling bertanya kabar, bertukar pengalaman, hingga diajak untuk ngobrol di warung kopi, bersantai di Malioboro. Hal itu membuat saya bersyukur, karena liburan ini bisa bertemu dengan orang-orang baik yang mau menerima kami di tempat yang pertama kali kami datangi.

Hampir tiga tahun saya dan mereka tidak saling berkomunikasi dan bertemu, semuanya terputus sejak perpisahan angkatan di pesantren. Tapi saat waktu mempertemukan kami kembali, dengan cerita dan pengalaman hidup yang berkembang dalam diri masing-masing, kami tetaplah teman. Kumpulan orang-orang yang dahulu pernah susah-senang bersama, lelah oleh kegiatan, tertawa untuk mempermudah keadaan.

Kami mungkin berjalan di jalan yang berbeda, tapi waktu membuktikan bahwa beberapa hubungan tidak benar-benar pergi, hanya menunggu waktu untuk dipertemukan kembali.

Kopi Merapi, 2026

Hooki, 2026

AI Generated

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punya Temen Polos dan Bisu, Namanya...

Saya suka menulis diary. Bukan yang habis makan pedes-pedes terus ke toilet itu ya, itu diare. Ini diary, atau catatan harian. Dalam catatan itu saya bercerita tentang kegiatan keseharian saya yang ragam suka dan duka. Karena waktu itu saya masih di pesantren, maka dengan padatnya kegiatan di sana saya berusaha menyempatkan diri menulis pada sore hari sebelum maghrib berkumandang. Habis mandi sekitar jam 4 sore (yang kemudian oleh keluarga saya dikomen, ‘apa gak terlalu awal kamu mandinya?’) saya akan ganti baju dan bersiap ke pasarean. Karena tidak bisa mengaji ke pasarean 3 kali sehari, maka yang satu ini sangat-sangat saya usahakan. Nah habis dari pasarean itu saya ke masjid dan duduk di tempat istiqomah, bersandar pada pilar masjid atau orang Madura biasa menyebutnya ‘Pang-pang’. (Padahal di sisi lain ‘Pang-pang’ juga nama jajan. Tapi pang-pang yang ini gak bisa dimakan. Emang ada yang makan pilar masjid?) setelah duduk, saya membuka buku diary dan mulai menulis catatan...

Saya Akan Mimisan Setiap Hari Kalau Tidak Ada Kalian: Catatan SIF 2026

Ruas jalan kabupaten ramai oleh lalu lalang kendaraan. Masyarakat beraktivitas mengisi sore hari dengan jogging, jajan, atau hanya sekedar ngobrol santai di trotoar. Apalagi di area taman pendopo Ronggosukowati, pedagang kaki lima berjejer menunggu pembeli. Waktu itu, saya dan panitia V-Fest—yang notabene-nya adalah teman kelas KPI—sedang mempersiapkan acara closing ceremony di peringgitan pendopo Ronggosukowati. Kami menata kursi, memasang banner, pameran foto, meja check-in, menggelar karpet merah, dekorasi bunga dan lainnya. Saat sedang khusyuk prepare itu, saya dipanggil oleh salah seorang teman, katanya ada yang ingin bertemu. “Lan, ada yang punya perlu. Sana ke musholla,” ucap teman saya. Sekilas saya masih melanjutkan pekerjaan, sedikit mengabaikan panggilan itu. Hingga beberapa menit setelahnya, Mufti—orang yang jarang ngobrol dengan saya (kecuali ada hal penting)—datang dan mengajak saya segera ke musholla samping pendopo. Terpaksa saya kesampingkan pekerjaan dan berjalan ...

Awal Mulanya Suka Menulis

Saya menyukai dunia tulis menulis sejak masih berada di pesantren. Pada tahun 2017, saya dihantarkan oleh keluarga dan beberapa tetangga naik bus mini ke pondok pesantren dimana saya akan menimba ilmu. Saya mondok berdua dengan teman. Tapi di pertengahan tahun kedua dia berhenti dan saya hidup sendirian tidak memiiki teman yang sekampung. Sedih, tapi saya tidak mau gugur hanya karena alasan itu. Saya sekamar dengan teman-teman yang notabene-nya berasal dari pantura. Ada dari Tamberu, Karang Anyar, Ketapang, Sokobanah dan lain-lain. Maka tidak heran jika pernah sesekali saya dianggap berasal dari tempat yang sama dengan mereka. Padahal yang bilang itu rumahnya dekat dengan saya. Saya cukup dekat dengan orang Karang Anyar yang sekamar dengan saya waktu itu. Ada kak Badrut, kak Naqib, kak Sholeh dan beberapa lainnya yang sudah agak lupa karena memang ini sudah lama sekali. Di suatu saat, saya tak sengaja membaca buku milik kak Badrut, dan waktu itu orangnya sedang tidak ada. Kebetulan ada...

Antara Tarawih yang Maju dan Tugas Kuliah yang Tak Kenal Waktu

Beberapa hari sebelum ramadhan tiba, saya kepikiran ingin membuat projek menulis selama ramadhan, 1 hari 1 tulisan, hitung-hitung menguji diri sendiri. Saya sudah meminta AI untuk bantu membuat konsep, termasuk apa saja yang akan saya tulis setiap harinya. Tapi, kamu tau apa yang terjadi? Sebelum masuk ramadhan pun saya sudah diberi projek menulis makalah oleh dosen. Emejing . AI-nya pun geleng-geleng mengetahui hal ini. Ternyata Tuhan langsung memberi saya projek yang lebih cepat daripada yang saya rencanakan. Dengan tugas makalah yang saya dapat itu tentunya projek 1 hari 1 tulisan dalam versi saya sendiri berubah menjadi 1 hari 1 jeritan. Ayo coba bayangkan, setelah libur semester yang beberapa bulan itu, pertemuan pertama langsung pemberian tugas dan pertemuan kedua langsung presentasi makalah. Pertemuan kedua itu adalah hari keempat dari kick off bulan puasa. Tapi, Alhamdulillah semuanya berjalan ”lancar” dan saya bersyukur karena 12 pertemuan tersisa saya hanya perlu hadir kelas ...

Ini Bukan Sekedar Konten-Kontenan

Halo semua. Ini kali kesekian saya berbagi tulisan di blog, setelah waktu tersita oleh hal-hal lain yang lebih penting seperti kuliah, tugas, dan acara. Hingga hal-hal lainnya yang dibuat seakan-akan penting seperti scroll medsos dan nonton dangdut Indosiar. Duh. Pada akhirnya, konsisten nulis hanyalah wacana. Dunia perkuliahan mengenalkan saya pada banyak hal yang sebelumnya memang saya sudah penasaran, bagaimana orang-orang bisa tampil di dunia digital dengan personanya masing-masing? Rasa penasaran itu akhirnya terjawab oleh tugas-tugas kuliah yang salah satunya adalah memanfaatkan media digital. Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan segala dinamika kehidupan saat ini, tentu sangat relevan dengan media digital seperti YouTube, Instagram, dan lainnya. Karena orang-orang sekarang ngumpulnya di sana semua, jadi dalam penyebaran dakwah pun kita harus terus relevan dengan zaman. Hal itu yang kemudian membuat saya dan teman-teman kelas diajak untuk mencoba dan mengetahui bagaimana dunia...

Konsekuensi yang Harus Diterima

Selama enam tahun belajar di pesantren dan setahun mengabdi di salah satu lembaga di daerah pantura di Pamekasan, saya mendapat konsekuensi yang memang seharusnya saya terima. Interaksi saya dengan teman-teman di sekitaran rumah ini menjadi berkurang dan lambat laun menjauh dengan alasan kesibukan masing-masing. Padahal sebelum tahun 2017, semua itu terasa sangat indah dan menyenangkan. Kami kemana-mana bersama, menghabiskan akhir pekan di alun-alun, mandi di sungai saat jam istirahat madrasah, main PS kelamaan sampai orangtua marah sambil mengangkat sapu bilang, ‘Main PS mloloh, pas ta’ engak se moleyah!!’ Seiring berjalannya waktu, semua itu hanya menjadi kenangan semata. Sekarang kita bisa saja membeli 10 bola plastik di warung, tapi kita tidak bisa membeli momen keseruan kita saat bermain bola waktu kecil. Itu mahal sekali, dan tidak ada satupun warung yang menjualnya. Kalau memang ada, sepertinya warung itu akan jadi saingan Warung Madura yang buka 24 jam yang katanya...

Menolak Arus, Menjemput Tenang: Mengapa Saya Tidak Perlu Menjelaskan Alasan ke Banyak Orang

  Saat ini, saya sedang ada di kondisi menolak sekian tawaran dari orang untuk melakukan sesuatu. Kecuali projek desain dan info ngopi dari sobat karib. Tentunya ini masalah kepentingan, baik individu atau kelompok. Kalau teman-teman saya membaca ini, saya yakin mereka paling tidak bisa menebak arahnya kemana. Dari hati yang dalam (ya, gak terlalu dalam banget sih), manusia berhak membuat pilihan. Karena saya manusia, orang-orang itu juga manusia, semuanya berhak untuk hal yang sama. Jadi, semua ini hanya tentang menghormati pilihan manusia lain saja. Pastinya, segala sesuatu terjadi karena ada alasan yang mendasari. Saya ngulik Corel sampe tengah malam alasannya karena ada projek. Pak ustad pagi-pagi habis subuh baca nama-nama almarhum di toa masjid, itu karena ada khotmil qur’an. Beberapa waktu lalu, orang-orang sengaja nunda sholat Isya karena mau nonton Valen DA7. Tapi apakah alasan-alasan itu harus semua orang tau? Yah, bisa jadi memang penting untuk semua orang tau. Orang...

Dari Pesantren ke Kampus: Adaptasi, Drama Maba sampai Dosen Baik Hati

Setelah boyong dari pesantren, saya sudah memantapkan diri melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Dengan berbagai banyak tahapan, termasuk saya yang ditawarkan untuk kembali ke pesantren dan drama tidak lulus masuk seleksi kampus jalur Mandiri Prestasi. Saya kembali mendaftar di jalur UM-PTKIN dan syukurnya lulus. Masuklah ke dunia perkuliahan. Berkenalan dengan teman baru, tempat baru, aktivitas baru dan tentunya dari semua itu saya memiliki kebiasaan baru. Saya yang awalnya membuka WhatsApp hanya untuk menonton keseharian orang-orang lewat story—bahkan yang story-nya sampe menjadi titik-titik kecil berderet seperti kereta api—berubah dan bertambah, jadi disibukkan dengan grup-grup baru. Grup angkatan, grup kelas, grup matakuliah, grup angkatan yang tidak ada katingnya (yang konon dikatakan grup ini dibuat agar kita bisa sepuasnya menghujat kating yang sok keras saat ospek). Grup-grup itu ramai dengan beragam topik pembahasan. Grup angkatan yang ada katingnya berisi topik tanya-tanya ten...