Setelah boyong dari pesantren, saya sudah memantapkan diri melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Dengan berbagai banyak tahapan, termasuk saya yang ditawarkan untuk kembali ke pesantren dan drama tidak lulus masuk seleksi kampus jalur Mandiri Prestasi. Saya kembali mendaftar di jalur UM-PTKIN dan syukurnya lulus. Masuklah ke dunia perkuliahan. Berkenalan dengan teman baru, tempat baru, aktivitas baru dan tentunya dari semua itu saya memiliki kebiasaan baru. Saya yang awalnya membuka WhatsApp hanya untuk menonton keseharian orang-orang lewat story—bahkan yang story-nya sampe menjadi titik-titik kecil berderet seperti kereta api—berubah dan bertambah, jadi disibukkan dengan grup-grup baru. Grup angkatan, grup kelas, grup matakuliah, grup angkatan yang tidak ada katingnya (yang konon dikatakan grup ini dibuat agar kita bisa sepuasnya menghujat kating yang sok keras saat ospek).
Grup-grup itu ramai dengan beragam topik pembahasan. Grup angkatan yang ada katingnya berisi topik tanya-tanya tentang apa saja yang akan dihadapi oleh mahasiswa baru kedepannya. Disitulah kating-kating mulai bergerak, siapa tau ada maba yang menarik dipandang dan mau diajak ngopi atau bahkan ada yang membuka jasa joki tugas. Cetar membahana memang, masih maba sudah dicekoki kebiasaan tidak dibenarkan itu. Grup kelas ramai dengan pembahasan yang memang sepantasnya untuk maba. Seperti, besok mata kuliah apa? kelasnya dimana? pake jaket gapapa apa gaboleh? Atau rembuk-rembuk tentang siapa saja yang akan menjadi pengurus kelas. Grup yang terbilang paling sopan adalah grup mata kuliah, karena di sana ada dosennya. Tidak perlu dipertanyakan kenapa itu dibilang grup tersopan, karena sudah jelas kami mahasiswa tidak bisa seenaknya berkomentar. Mentok-mentok ‘Baik, bapak.’ Kecuali kalau dosennya izin tidak masuk, jawabannya akan sedikit lebih panjang. Dosen said ‘Hari ini bapak tidak bisa masuk karena ada pertemuan di luar kota. Perkuliahan digelar secara mandiri.’ Dengan gercep mahasiswa bala-bala me-reply-nya dengan, ‘Baik, bapak. Semoga selamat sampai tujuan.’ Dalam hati bersorak karena jam perkuliahan bisa diganti dengan pergi makan sama teman satu sirkel ke Doyan Rujak atau Seblak Prasmanan.
Tidak menutup kemungkinan, orang-orang baru ini terjebak dalam perasaan cinta dan keinginan saling memiliki. Biasanya hal ini terjadi karena banyak hal. Bisa karena penampilan yang menarik, tidak malu-maluin kalo diajak jalan keliling kabupaten. Atau yang terdengar dewasa, memiliki hobi yang sama, selera humor yang sama, dan komunikasi yang baik serta nyambung. Masing-masing memiliki alasan kenapa harus terjadi karena cinta selalu memiliki tempat bernafas di manapun manusia berpijak.
Semua kegiatan di kampus membuat pusing kepala, tapi semua orang—termasuk saya—mencoba menikmatinya. Itu cara paling ampuh agar semester demi semester bisa berjalan dengan baik dan itu lebih baik daripada saya sakit kepala dengan banyak tugas yang menumpuk. Dan syukurnya saya bisa melewati semester satu ini dengan baik. Tercatat saya menulis note ini saat libur semester. Saya sampai bingung mau melakukan apa untuk mengisi hari libur. Mentok-mentok saya scroll sosial media dan melihat perkembangan kasus yang sedang booming digoreng seperti Pagar Laut Tangerang dan Relokasi PKL di Arek Lancor. Yah, walaupun yang lebih sering muncul adalah meme, barang-barang murah, lagu Harimau Malaya dan Mengapa Harus Shin Tae Yong atau sinematik sepeda motor dengan lagu Ayo Sayang Culik Aku Dong.
Komentar
Posting Komentar