Langsung ke konten utama

Kami Punya Konsep, Bukan Pengalaman: Di Balik Lahirnya V-Fest

Tepat tanggal 09 Maret lalu, kami satu kelas KPI mengadakan buka bersama. Selain karena untuk menjalin silaturrahmi, juga karena fomo aja ikut-ikutan kelas lainnya. Tidak ada seremonial, yang ada hanya datang dan ngobrol perihal random, sesuai dengan keinginan masing-masing—sembari menunggu adzan Maghrib dan anggota kelas yang terlambat datang karena tersasar di jalan.

Setelah prosesi buka bersama selesai, kami untuk pertama kalinya membuka percakapan tentang rencana pelaksanaan event untuk memenuhi tugas UAS sebuah mata kuliah. Ini baru terpikirkan saat itu juga, karena melihat deadline yang diberikan oleh dosen sudah dekat dan kebetulan 97% anggota kelas hadir. Karena masih pertama kalinya, maka yang harus kami rembukkan adalah susunan panitia.

Buka bersama

Kami bergeser dari Temu Coffee—tempat kami buka bersama—ke monumen Arek Lancor untuk melanjutkan permusyawaratan. Di sana kami membahas konsep acara yang kemudian hasilnya akan kami setorkan pada dosen pengampu untuk dikaji dan didalami. Menyesuaikan dengan kemampuan dan persiapan panitia untuk melaksanakannya nanti.

Rapat demi rapat dilakukan, revisi demi revisi diperbaiki. Kami adalah orang-orang yang belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi kami yakin dengan konsep, bimbingan dan kesemangatan, hal ini akan berjalan dengan baik.

Hasil musyawarah bersama panitia dan dosen pengampu akhirnya berbuah hasil, nama event kami adalah Visual Creativity Festival, atau yang disingkat V-Fest. Secara garis besar, kami akan mengadakan lomba fotografi, mini vlog, dan desain poster untuk adik-adik SMA/sederajat di Pamekasan dan mahasiswa di UIN Madura. Acara puncaknya akan kami meriahkan dengan sharing session bersama Kreator Konten berdarah China-Madura, Ci Melia Santoso, dan pameran foto hasil belajar kami di kelas dengan berbagai macam tema.

Kami mempersiapkan itu semua dengan sebaik mungkin. Panitia mengajak kerjasama ke banyak pihak untuk menjadi sponsor dan media partner. Semuanya dicoba. Percetakan, kuliner, pemerintah kabupaten, klinik kecantikan, travel umroh, media lokal, konveksi, dan lapisan lainnya yang kami anggap bisa menjadi bala bantuan menjaring lebih banyak peserta lomba dan support dana.

Poster lomba kami share ke media sosial, dan media partner kami turut merepost. Tapi selain itu, kami juga kirim panitia turun ke sekolah-sekolah untuk memasukkan surat permohonan delegasi. Semuanya tak langsung berjalan mulus, tapi dengan evaluasi dan perbaikan cepat kami bisa memenuhi kuota peserta lomba sesuai dengan target yang kami inginkan. Tahu apa selanjutnya? Ya, kami mulai mempersiapkan klimaks dari semua huru-hara ini, yaitu closing ceremony.

Musyawarah penempatan closing ceremony berjalan sedikit lama, kami memiliki beberapa opsi yang sama-sama kuatnya. Tapi keputusan harus diambil, kami akhirnya memilih Peringgitan Mandhapa Agung Ronggosukowati untuk menjadi venue closing event khususnya sharing session dan pameran foto.

Kami menghubungi bagian umum pemerintah kabupaten untuk izin peminjaman pendopo, setelah mengecek tanggal—dan tanggal yang kami maksud itu kosong—akhirnya kami valid menggelar penutupan event di pendopo Ronggosukowati.

Berpindah ke persiapan lainnya, tim perlengkapan dan anggota panitia yang lain menggarap papan-papan untuk tempat pameran foto. Dengan alat dan bahan seadanya, kami bisa memaksimalkan konsep pameran foto dengan cara yang sederhana tapi tidak kalah membahana. Apresiasi yang tinggi saya ucapkan—selaku yang membersamai teman-teman dari awal hingga akhir—pada panitia yang turut membantu proses pembuatan stand pameran foto, karena sudi begadang memikirkan konsep dan penggarapan dari mulai hingga selesai. Kalian luar biasa.

Branding di media sosial juga sangat kami perhatikan. Seluruh bentuk pertanyaan dan kebingungan peserta baik dalam segi teknis dan lainnya, kami tampung langsung di sesi tanya jawab. Baik via ig story dan whatsapp chat ke tim humas atau bagian tertentu yang bersangkutan. Termasuk kemarin sempat terjadi trouble di website pendaftaran, tim publikasi dengan cepat mengklarifikasi serta memberikan solusi sementara agar peserta yang terkendala bisa menyelesaikan proses pendaftaran.

Menjelang penutupan, tim mulai menghubungi para juri dari masing-masing lomba untuk mulai melakukan penilaian terhadap karya para peserta. Antusiasme teman-teman peserta lomba dalam mengirim karya terbaiknya, menjadi komitmen tersendiri bagi kami untuk menyeleksi karya sebaik mungkin. Penilaian sepenuhnya kami serahkan ke tangan juri, tanpa intervensi dari panitia sedikit pun.

Sehari sebelum closing, kami mulai mempersiapkan tempat penutupan. Mengangkat barang-barang seperti stand pameran, menata kursi, menggelar karpet, menyapu lantai, memasang banner, mengatur denah tempat check-in tamu, dan lainnya. Semua panitia dikerahkan. Terutama proses pemindahan photobooth dari rumah saya ke pendopo yang amat sangat tricky, karena sempat menabrak tiang lampu di jalan.

Tapi semuanya terkendali. Kami menyelesaikan hal-hal lain seperti mencetak sertifikat langsung di pendopo hingga larut malam. Saya sendiri sampai tidak yakin, besok pagi buta akan bangun atau tidak. Ditambah juga belum sekalipun mempersiapkan apa-apa untuk prakata panitia di esok harinya. Saya tidur jam tiga dini hari, dengan keyakinan jam lima saya harus bangun dan harus menjadi orang pertama yang sampai ke pendopo untuk mengecek lagi persiapan di tempat.

Benar saja, pagi saat saya sampai ke lokasi, stand pameran sudah berantakan terkena angin semalam, gapura bunga milik sponsor kami juga roboh, tidak kuat diterpa angin kencang. Tali-tali foto pameran acak-acakan saling berkait, kami harus menyisir tali itu satu persatu agar foto pameran bisa menggantung sempurna. Papan pameran yang awalnya ada di pinggir, berpindah ke tengah karena terdorong angin. Untung waktu itu masih sangat pagi—karena ibu-ibu di teras pendopo masih senam—jadi masih ada waktu untuk kami memperbaiki semuanya.

Kalau saya tidak luput, acara resmi dimulai jam 08.30. Itu sebenarnya molor setengah jam, tapi karena durasi sharing session yang tidak terlalu lama, acara bisa selesai lebih cepat dari rundown. Keseluruhan acara berjalan lancar. Sesi tanya jawab disambut baik oleh peserta dan panitia. Hingga pemberian hadiah dan penutup, alhamdulillah berjalan baik-baik saja.


Sharing session

Dengan rasa syukur yang tiada batas, saya bisa bernafas lega. Akhirnya acara ini selesai dengan memuaskan.

Setelah acara, kami mulai beres-beres. Mengembalikan semua barang yang dipinjam, membuka banner, bersih-bersih, dan mengantarkan merchandise ke sebagian sponsor serta media partner yang berhalangan hadir.

Sekretaris panitia mengirim press release, dan media partner mulai memberitakan event kami ke media sosial. Notifikasi link berita beberapa kali masuk ke pesan whatsapp, termasuk pesan dari dosen pengampu kami.

“Selamat beristirahat semua,” tulis bu Fieda singkat. Teman-teman menanggapi dengan reaksi love, dan saya betul-betul tidur nyenyak setelah itu.

***

Mungkin tulisan ini sangat optimis, ya. Tapi tidak dapat dipungkiri, masih ada banyak kekurangan dan kesalahan yang terjadi selama pelaksanaan event. Kami hanyalah perkumpulan orang-orang yang memiliki konsep, bukan pengalaman. Jadi, segala bentuk kekurangan dan kekeliruan adalah murni karena ketidaktahuan. Dan segala bentuk keberhasilan adalah buah dari evaluasi dan bimbingan dari seluruh elemen, khususnya dosen pengampu mata kuliah kami, ibu Hafidlatul Fauzuna, M.I.Kom.

Terima kasih sekali lagi saya ucapkan—sebelumnya sudah saya sampaikan di prakata ketua panitia, hehe—kepada seluruh sponsor dan media partner, yang telah membantu kami baik dari segi pendanaan, merchandise, konsumsi, publikasi dan lainnya. Kami adalah pemula, jadi mohon maaf apabila treatment yang kami berikan terdapat sesuatu yang keliru atau salah. Kami siap memperbaiki untuk kesempatan berikutnya.

Tak lupa kepada seluruh peserta lomba, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Karena telah mempercayakan karya terbaiknya kepada V-Fest. Terlepas dari siapa yang menang dan kalah, yang terpenting bagi kami adalah keberanian untuk mengirim karya dan bersaing demi menemukan sejauh mana passion teman-teman berada. Jangan cepat puas, terus mencoba.

 Terakhir, saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman KPI 24—panitia pelaksana V-Fest 2026—atas kerjasama yang luar biasa.

Ada satu hal yang belum saya ceritakan dari awal. Selayaknya perkumpulan manusia dengan karakter berbeda, kelas kami sebenarnya tidak seadem-ayem yang terlihat. Perbedaan pendapat seringkali terjadi, orang Madura biasa menyebutnya dhuson—situasi di mana saling menutup komunikasi karena tak sejalan. Karena seringnya hal itu terjadi, sebagian dari kami—termasuk saya—kerap memilih menerima saja keputusan yang disepakati demi menghindarinya.

Tapi menyaksikan acara ini berjalan hingga selesai, saya justru meyakini bahwa keputusan itu bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan tentang solidaritas dan kebersamaan—dan justru itulah yang membawa kami, dengan segala perbedaan kami, sampai di titik ini.

Prakata


Panitia


Photobooth (sebelum menabrak tiang lampu)


Pameran

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punya Temen Polos dan Bisu, Namanya...

Saya suka menulis diary. Bukan yang habis makan pedes-pedes terus ke toilet itu ya, itu diare. Ini diary, atau catatan harian. Dalam catatan itu saya bercerita tentang kegiatan keseharian saya yang ragam suka dan duka. Karena waktu itu saya masih di pesantren, maka dengan padatnya kegiatan di sana saya berusaha menyempatkan diri menulis pada sore hari sebelum maghrib berkumandang. Habis mandi sekitar jam 4 sore (yang kemudian oleh keluarga saya dikomen, ‘apa gak terlalu awal kamu mandinya?’) saya akan ganti baju dan bersiap ke pasarean. Karena tidak bisa mengaji ke pasarean 3 kali sehari, maka yang satu ini sangat-sangat saya usahakan. Nah habis dari pasarean itu saya ke masjid dan duduk di tempat istiqomah, bersandar pada pilar masjid atau orang Madura biasa menyebutnya ‘Pang-pang’. (Padahal di sisi lain ‘Pang-pang’ juga nama jajan. Tapi pang-pang yang ini gak bisa dimakan. Emang ada yang makan pilar masjid?) setelah duduk, saya membuka buku diary dan mulai menulis catatan...

Saya Akan Mimisan Setiap Hari Kalau Tidak Ada Kalian: Catatan SIF 2026

Ruas jalan kabupaten ramai oleh lalu lalang kendaraan. Masyarakat beraktivitas mengisi sore hari dengan jogging, jajan, atau hanya sekedar ngobrol santai di trotoar. Apalagi di area taman pendopo Ronggosukowati, pedagang kaki lima berjejer menunggu pembeli. Waktu itu, saya dan panitia V-Fest—yang notabene-nya adalah teman kelas KPI—sedang mempersiapkan acara closing ceremony di peringgitan pendopo Ronggosukowati. Kami menata kursi, memasang banner, pameran foto, meja check-in, menggelar karpet merah, dekorasi bunga dan lainnya. Saat sedang khusyuk prepare itu, saya dipanggil oleh salah seorang teman, katanya ada yang ingin bertemu. “Lan, ada yang punya perlu. Sana ke musholla,” ucap teman saya. Sekilas saya masih melanjutkan pekerjaan, sedikit mengabaikan panggilan itu. Hingga beberapa menit setelahnya, Mufti—orang yang jarang ngobrol dengan saya (kecuali ada hal penting)—datang dan mengajak saya segera ke musholla samping pendopo. Terpaksa saya kesampingkan pekerjaan dan berjalan ...

Awal Mulanya Suka Menulis

Saya menyukai dunia tulis menulis sejak masih berada di pesantren. Pada tahun 2017, saya dihantarkan oleh keluarga dan beberapa tetangga naik bus mini ke pondok pesantren dimana saya akan menimba ilmu. Saya mondok berdua dengan teman. Tapi di pertengahan tahun kedua dia berhenti dan saya hidup sendirian tidak memiiki teman yang sekampung. Sedih, tapi saya tidak mau gugur hanya karena alasan itu. Saya sekamar dengan teman-teman yang notabene-nya berasal dari pantura. Ada dari Tamberu, Karang Anyar, Ketapang, Sokobanah dan lain-lain. Maka tidak heran jika pernah sesekali saya dianggap berasal dari tempat yang sama dengan mereka. Padahal yang bilang itu rumahnya dekat dengan saya. Saya cukup dekat dengan orang Karang Anyar yang sekamar dengan saya waktu itu. Ada kak Badrut, kak Naqib, kak Sholeh dan beberapa lainnya yang sudah agak lupa karena memang ini sudah lama sekali. Di suatu saat, saya tak sengaja membaca buku milik kak Badrut, dan waktu itu orangnya sedang tidak ada. Kebetulan ada...

Antara Tarawih yang Maju dan Tugas Kuliah yang Tak Kenal Waktu

Beberapa hari sebelum ramadhan tiba, saya kepikiran ingin membuat projek menulis selama ramadhan, 1 hari 1 tulisan, hitung-hitung menguji diri sendiri. Saya sudah meminta AI untuk bantu membuat konsep, termasuk apa saja yang akan saya tulis setiap harinya. Tapi, kamu tau apa yang terjadi? Sebelum masuk ramadhan pun saya sudah diberi projek menulis makalah oleh dosen. Emejing . AI-nya pun geleng-geleng mengetahui hal ini. Ternyata Tuhan langsung memberi saya projek yang lebih cepat daripada yang saya rencanakan. Dengan tugas makalah yang saya dapat itu tentunya projek 1 hari 1 tulisan dalam versi saya sendiri berubah menjadi 1 hari 1 jeritan. Ayo coba bayangkan, setelah libur semester yang beberapa bulan itu, pertemuan pertama langsung pemberian tugas dan pertemuan kedua langsung presentasi makalah. Pertemuan kedua itu adalah hari keempat dari kick off bulan puasa. Tapi, Alhamdulillah semuanya berjalan ”lancar” dan saya bersyukur karena 12 pertemuan tersisa saya hanya perlu hadir kelas ...

Ini Bukan Sekedar Konten-Kontenan

Halo semua. Ini kali kesekian saya berbagi tulisan di blog, setelah waktu tersita oleh hal-hal lain yang lebih penting seperti kuliah, tugas, dan acara. Hingga hal-hal lainnya yang dibuat seakan-akan penting seperti scroll medsos dan nonton dangdut Indosiar. Duh. Pada akhirnya, konsisten nulis hanyalah wacana. Dunia perkuliahan mengenalkan saya pada banyak hal yang sebelumnya memang saya sudah penasaran, bagaimana orang-orang bisa tampil di dunia digital dengan personanya masing-masing? Rasa penasaran itu akhirnya terjawab oleh tugas-tugas kuliah yang salah satunya adalah memanfaatkan media digital. Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan segala dinamika kehidupan saat ini, tentu sangat relevan dengan media digital seperti YouTube, Instagram, dan lainnya. Karena orang-orang sekarang ngumpulnya di sana semua, jadi dalam penyebaran dakwah pun kita harus terus relevan dengan zaman. Hal itu yang kemudian membuat saya dan teman-teman kelas diajak untuk mencoba dan mengetahui bagaimana dunia...

Hilang untuk Healing: Tiga Hari yang Mengajarkan Arti Pulang

  Meja-meja terisi pelanggan. Satu-dua kelompok bermain domino, menonton pertandingan sepak bola, mengobrol sambil sesekali menyeruput kopi. Setelah seharian beraktivitas, orang-orang kelelahan ini bertemu untuk saling berbagi rasa semangat, lalu saling mengingatkan bahwa besok kita masih hidup dan akan berjuang lagi. Ini sebuah awal dari tiga hari yang bermakna dalam perjalanan hidup kami. Hari di mana kami sadar tentang pentingnya solidaritas dan relasi. Semua dimulai di warung kopi, tempat saya dan teman-teman melepas penat dari kesibukan perkuliahan. Melihat betapa membosankannya libur kuliah yang hanya diisi keluar masuk warung kopi, kami merencanakan pelarian ke Yogyakarta. Niat hati agar bisa refreshing dan sesekali ke luar Madura. Kami—Alan, Ikhtiar, Adan, dan Fikri—sudah saling mengenal di pesantren sejak tahun 2022, yang kemudian bertemu kembali dalam satu almamater yang sama, UIN Madura. Rencana ini kami beri nama Hilang untuk Healing. Saya urus rencana perjalanan, A...

Konsekuensi yang Harus Diterima

Selama enam tahun belajar di pesantren dan setahun mengabdi di salah satu lembaga di daerah pantura di Pamekasan, saya mendapat konsekuensi yang memang seharusnya saya terima. Interaksi saya dengan teman-teman di sekitaran rumah ini menjadi berkurang dan lambat laun menjauh dengan alasan kesibukan masing-masing. Padahal sebelum tahun 2017, semua itu terasa sangat indah dan menyenangkan. Kami kemana-mana bersama, menghabiskan akhir pekan di alun-alun, mandi di sungai saat jam istirahat madrasah, main PS kelamaan sampai orangtua marah sambil mengangkat sapu bilang, ‘Main PS mloloh, pas ta’ engak se moleyah!!’ Seiring berjalannya waktu, semua itu hanya menjadi kenangan semata. Sekarang kita bisa saja membeli 10 bola plastik di warung, tapi kita tidak bisa membeli momen keseruan kita saat bermain bola waktu kecil. Itu mahal sekali, dan tidak ada satupun warung yang menjualnya. Kalau memang ada, sepertinya warung itu akan jadi saingan Warung Madura yang buka 24 jam yang katanya...

Menolak Arus, Menjemput Tenang: Mengapa Saya Tidak Perlu Menjelaskan Alasan ke Banyak Orang

  Saat ini, saya sedang ada di kondisi menolak sekian tawaran dari orang untuk melakukan sesuatu. Kecuali projek desain dan info ngopi dari sobat karib. Tentunya ini masalah kepentingan, baik individu atau kelompok. Kalau teman-teman saya membaca ini, saya yakin mereka paling tidak bisa menebak arahnya kemana. Dari hati yang dalam (ya, gak terlalu dalam banget sih), manusia berhak membuat pilihan. Karena saya manusia, orang-orang itu juga manusia, semuanya berhak untuk hal yang sama. Jadi, semua ini hanya tentang menghormati pilihan manusia lain saja. Pastinya, segala sesuatu terjadi karena ada alasan yang mendasari. Saya ngulik Corel sampe tengah malam alasannya karena ada projek. Pak ustad pagi-pagi habis subuh baca nama-nama almarhum di toa masjid, itu karena ada khotmil qur’an. Beberapa waktu lalu, orang-orang sengaja nunda sholat Isya karena mau nonton Valen DA7. Tapi apakah alasan-alasan itu harus semua orang tau? Yah, bisa jadi memang penting untuk semua orang tau. Orang...

Dari Pesantren ke Kampus: Adaptasi, Drama Maba sampai Dosen Baik Hati

Setelah boyong dari pesantren, saya sudah memantapkan diri melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Dengan berbagai banyak tahapan, termasuk saya yang ditawarkan untuk kembali ke pesantren dan drama tidak lulus masuk seleksi kampus jalur Mandiri Prestasi. Saya kembali mendaftar di jalur UM-PTKIN dan syukurnya lulus. Masuklah ke dunia perkuliahan. Berkenalan dengan teman baru, tempat baru, aktivitas baru dan tentunya dari semua itu saya memiliki kebiasaan baru. Saya yang awalnya membuka WhatsApp hanya untuk menonton keseharian orang-orang lewat story—bahkan yang story-nya sampe menjadi titik-titik kecil berderet seperti kereta api—berubah dan bertambah, jadi disibukkan dengan grup-grup baru. Grup angkatan, grup kelas, grup matakuliah, grup angkatan yang tidak ada katingnya (yang konon dikatakan grup ini dibuat agar kita bisa sepuasnya menghujat kating yang sok keras saat ospek). Grup-grup itu ramai dengan beragam topik pembahasan. Grup angkatan yang ada katingnya berisi topik tanya-tanya ten...