Ruas jalan kabupaten ramai oleh lalu lalang kendaraan. Masyarakat
beraktivitas mengisi sore hari dengan jogging, jajan, atau hanya sekedar
ngobrol santai di trotoar. Apalagi di area taman pendopo Ronggosukowati,
pedagang kaki lima berjejer menunggu pembeli.
Waktu itu, saya dan panitia V-Fest—yang notabene-nya adalah teman
kelas KPI—sedang mempersiapkan acara closing ceremony di peringgitan pendopo Ronggosukowati.
Kami menata kursi, memasang banner, pameran foto, meja check-in, menggelar
karpet merah, dekorasi bunga dan lainnya. Saat sedang khusyuk prepare itu, saya
dipanggil oleh salah seorang teman, katanya ada yang ingin bertemu.
“Lan, ada yang punya perlu. Sana ke musholla,” ucap teman saya.
Sekilas saya masih melanjutkan pekerjaan, sedikit mengabaikan panggilan itu.
Hingga beberapa menit setelahnya, Mufti—orang yang jarang ngobrol
dengan saya (kecuali ada hal penting)—datang dan mengajak saya segera ke
musholla samping pendopo. Terpaksa saya kesampingkan pekerjaan dan berjalan
mengekor Mufti dari belakang.
Sesampainya di musholla, saya melihat dua orang yang duduk bersila
rapi di teras. Mereka adalah kakak tingkat dan teman saya di salah satu
organisasi mahasiswa penerima bantuan KIP-Kuliah. Kami menyebutnya Fradiksi.
Saya duduk dan bersalaman, dalam hati masih mengira-ngira, ‘apa yang membawa
mereka ke sini?’
Dialog persisnya saya lupa, tapi yang jelas, saya dan Mufti diajak
untuk bergabung dalam kepanitiaan sebuah acara bernama Social Inspiration of
Fradiksi. FYI, kegiatan ini adalah pengabdian mahasiswa Fradiksi kepada masyarakat
selama sepuluh hari, dalam rangka mengisi waktu liburan agar tetap produktif.
Itu definisi versi saya ya, BPH Fradiksi bisa mengoreksi itu di kolom komentar
atau japri WA saya kalau itu salah. (itupun kalau mereka baca tulisan ini)
Ajakan itu tidak langsung kami—saya dan Mufti—iyakan. Di titik
tertentu, saya masih lelah mengurus V-Fest dan berniat akan rebahan setelah
event lomba ini selesai. Jujur, saya pribadi tipe makhluk hidup yang lebih
memilih beraktivitas sendiri saat liburan. Rebahan, scroll, jajan.
Hitung-hitung membayar waktu tenang yang diambil oleh kesibukan saat kampus
masuk.
Menerima ajakan ini berarti saya siap untuk kembali dikejar,
mengejar dan terkejar oleh deadline. Mufti juga begitu, dia masih ragu karena
kami berdua adalah anggota yang tidak memiliki pengalaman. Sedangkan posisi
yang ditawarkan oleh dua orang tamu ini cukup penting. Mufti sebagai CO
keamanan, dan saya CO PDD. Emezing. Bagaimana kami akan mengarahkan anggota,
sedangkan kami sendiri belum terarah?
Tapi setelah sekian pergolakan pikiran terjadi, saya berpikir bahwa
mungkin ini sudah saatnya saya bergabung bersama mereka. Karena bagi angkatan
24, kegiatan ini adalah kegiatan terakhir. Saya pun menerima ajakan itu.
Mufti? Dia malah dengan nada bercanda bilang, ‘kalau Alan ikut,
saya juga ikut’ kami tertawa bersama.
“Tenang, bang. Kami sudah pilihkan anggota yang jago-jago, biar
kamu gak kesulitan,” ucap salah satu dari tamu kami. Saya membalas dengan
tersenyum, sembari mengamini ucapannya dalam hati.
Keesokan harinya diadakan pemetakan panitia SIF 2026, dan kami
berdua tidak bisa ikut karena bertepatan dengan closing ceremony V-Fest. Acara
kelas kami sendiri.
***
Rapat demi rapat dilakukan. Saya bertemu dengan tim PDD yang akan
membersamai dalam dokumentasi selama acara ini berlangsung. Sebagian orangnya
saya kenal, sebagian besar lainnya wajah baru. Saya mencoba menjalin komunikasi
yang baik dengan mereka, berharap bisa menjadi tim yang solid dan bisa melakukan
yang terbaik untuk acara ini.
Pertama yang kami bahas dalam divisi adalah pembagian jobdesk. Saya
coba mengonfirmasi semua anggota untuk mengadakan rapat internal, dan alhamdulillah
terlaksana. Sayangnya, tidak keseluruhan anggota berkenan melanjutkan. Maksudnya,
sebagian orang dari anggota divisi kami mengundurkan diri dengan alasan
tertentu. Dengan berat hati, kami melanjutkan tugas dengan jumlah anggota
divisi lima orang.
Tidak masalah. Fradiksi membuktikan ucapannya dengan memberikan
saya anggota yang sudah siap tempur. Kami sudah bekerja bahkan saat acara belum
dimulai. Dokumentasi setiap rapat, konten video, pamflet, launching logo, videotron,
twibbon, desain banner, dan lainnya.
“Mari dibagi, siapa yang akan ikut ke lokasi duluan sama yang
dokumentasi pemberangkatan,” kami diminta untuk berpencar. Tim humas dan ketua
panitia akan berangkat sehari sebelum rombongan untuk mempersiapkan lokasi.
Dari divisi kami juga diminta perwakilan, katanya untuk memasang banner selamat
datang.
“Saya di kampus, kak,”
“Saya di kampus juga, soalnya gak bawa sepeda motor”
Begitulah bunyi-bunyian di grup internal saat ditanya siapa yang
mau ke lokasi duluan sama yang akan dokumentasi pemberangkatan.
“Oke, saya yang ke tempat duluan kalo gitu,” jawab saya. Saya
mempersiapkan semuanya lebih awal. Packing. Lalu sehari sebelum rombongan
berangkat, saya sudah meluncur membelah jalur pantura lebih dulu bersama ketua
panitia dan tim humas. Dokumentasi saat pemberangkatan nanti saya pasrahkan ke
tim yang ikut rombongan.
Kurang lebih dua jam perjalanan—karena masih istirahat salat di
pertengahan jalan—akhirnya kami sampai di lokasi, yang selama sepuluh hari ke depan
akan kami tempati. Untuk sementara, barang-barang kami taruh di dalam balai
desa. Setelah itu, kami mulai bersih-bersih kamar yang kemudian akan dijadikan
tempat beristirahat untuk hari-hari ke depannya.
Keesokan harinya, rombongan yang berangkat dari kampus itu datang.
Dua unit bis mini dan satu mobil pribadi terparkir, menurunkan penumpang yang
sepertinya dalam keadaan kepala pusing, mata mengantuk, sakit pinggang. Semuanya
diarahkan ke kamar yang sudah disiapkan, diharapkan untuk beristirahat. Siapkan
tenaga. Nanti malam akan langsung bekerja untuk opening acara.
Menjelang malam, panitia
mempersiapkan panggung, terop, dan kebutuhan opening lainnya. Tercatat hingga
adzan maghrib berkumandang, kami masih berkutat di halaman balai untuk
menyelesaikan persiapan itu.
Long story short, opening ceremony—asumsi saya—berjalan dengan
lancar. Tim PDD juga saling bahu-membahu mendokumentasikan acara, baik foto
ataupun video. Meski ada kendala, kendala-kendala yang terjadi bisa diatasi
dengan cepat dan terarah. Termasuk saat pembacaan mars yang sempat tiba-tiba
ter-pause, karena laptop ter-sleep dengan sendirinya. Saya—yang
kebetulan bertugas di operator—langsung klarifikasi hal itu di rapat evaluasi.
Clear. Saat sesudah pembacaan mars itu, saya ubah screen time laptop ke never,
yang artinya layar akan tetap hidup.
Saya lupa mengubahnya kembali ke waktu normal. Jadi, yang punya
laptop—karena saya emang pinjam—mungkin akan kebingungan, ‘ini kenapa layar
gak mati-mati sih?!’ sori ya. Ubah lagi aja, tutor di TikTok banyak.
Selesai beres-beres, saya nimbrung bersama teman-teman di atas
panggung. Hingga tidak terasa saya ketiduran di sana. Dengan kondisi cuaca yang
dingin dan hanya berbekal jaket tipis, bangun subuh saya kaget karena hidung
saya keluar darah. Ternyata ini mimisan—yang awalnya saya kira ada nyamuk mati
di dalam hidung—saya segera ke kamar mandi untuk membersihkan.
***
Secara garis besar, ada beberapa kegiatan yang kami lakukan saat
SIF ini. Semua kegiatan sudah tercantum dalam rundown yang dibuat oleh divisi
keacaraan. Dan divisi PDD mendapatkan special task—artinya bisa searching
di Google—yaitu mendokumentasikan tidak hanya kegiatan inti, tapi semua bentuk aktivitas
yang dilakukan saat SIF berlangsung.
Itu bertujuan untuk menyimpan momen agar bisa dijadikan kenangan di
kemudian hari, untuk bahan kami membuat after movie juga, dan bentuk tanggung
jawab PDD ke semua panitia (khususnya bendahara), karena rencana anggaran biaya
atau RAB PDD menempati terbesar kedua setelah divisi konsumsi.
Dalam benak panitia lain mungkin gini, ‘PDD gaboleh gitu-gitu
aja, kalian ngabisin banyak duit.’ Saat mengetahui anggaran kami terbesar
kedua, saya dan tim PDD mencoba tersenyum manis, sembari dalam hati dag-dig-dug
menahan beban sosial itu. Haha.
Dokumentasi kami mulai dari pagi. Salat berjamaah, kami potret
muka-muka ngantuk itu. Lalu lanjut saat bersih-bersih, saat divisi transportasi
memanaskan motor, sarapan, mengajar ke sekolah-sekolah, pengabdian ke
masyarakat, hingga diskusi kelompok. Termasuk saat program khusus—ya, saya menyebutnya
begitu—seperti santunan anak yatim, seminar pendidikan, seminar pertanian, lomba-lomba
dan jariyatul masjid. Semua tidak luput dari sorotan kamera PDD yang memakan
anggaran acara itu.
Untuk menyimpan semua foto kegiatan selama sepuluh hari, tentunya
dibutuhkan penyimpanan yang besar. Untungnya akun mahasiswa saya pernah
didaftarkan dalam promo uji coba Google AI Pro tahun lalu. Saya mendapatkan
gratis penyimpanan 5 TB selama 12 bulan. Itulah yang saya gunakan untuk
menyimpan semua foto-foto kalian para panitia SIF. Bilang terima kasih dulu
sama Google, ya.
Masalahnya, itu sudah sejak bulan September 2025 lalu. Artinya apa?
Artinya adalah, September depan saya akan ditagih oleh Google untuk membayar
karena masa uji coba sudah habis. Jujur, saya agak parno memikirkannya—bukan
soal duit, tapi karena dalam drive itu ada sepuluh hari yang kami kumpulkan
dengan penuh suka-duka, ada momen-momen manis dan berharga. Kalau saya tidak
bayar, segera backup semua foto-foto kalian ya. Ucapkan selamat tinggal pada
semua dokumentasi yang hampir 30 GB itu. Huhu.
***
Setiap malam sebelum tidur, seluruh panitia mengadakan rapat
evaluasi. Seluruh kegiatan dari pagi hingga malam dilimpahkan dalam satu
majelis itu. Segala bentuk kekurangan, koreksi, tanggung jawab, dikeluarkan dan
dibahas bersama. Berharap menjadi batu loncatan untuk perubahan di esok
harinya.
Setiap rapat evaluasi itu berlangsung, saya tidak terlalu merasa
terbebani. Saya memiliki tim yang baik, semua jobdesk dikerjakan dengan terarah
dan harusnya memuaskan. Jika terjadi kesalahan—lalu ada yang
mengevaluasi—tinggal kami angguki, besoknya kami perbaiki. Clear. Tak perlu ada
drama tidak terima. Selama masih bisa ditanggapi dengan tenang, kami bisa
menerima semua bentuk evaluasi dengan hati senang.
Kurang lebih lima hari sebelum malam penutupan, saya dan tim PDD
mulai membahas video core dan after movie. Dengan arahan dari SC PDD dan referensi
dari berbagai sumber, kami menghubungi dua panitia dari divisi lain untuk turut
menjadi talent dalam proyek after movie ini. Dengan script sederhana, scene
dalam adegan pembuka dan penutup selesai diambil. Meski sempat terpotong waktu,
karena saya jatuh sakit.
Alhamdulillah, semuanya berjalan aman. Video core yang kami buat
berisi tingkah kocak dan aib panitia serta volunteer. Sedangkan after movie untuk
meng-call back semua kegiatan kami, mulai dari pemberangkatan hingga
hari terakhir. Kami bisa menyelesaikan dua proyek video itu dengan tepat waktu
dan berhasil diputar saat malam closing.
Closing ceremony—asumsi saya—berjalan dengan lancar. Tim PDD juga
saling bahu-membahu mendokumentasikan acara, baik foto ataupun video. Saya—yang
bertugas di operator lagi—tidak mau kesalahan saat pembacaan mars terulang
kembali. Sebelum acara dimulai, saya langsung mengubah screen time laptop ke
never. Dan lagi-lagi saya lupa mengubahnya ke waktu normal.
Jadi, untuk siapapun yang punya laptop kemarin—karena saya memang
pinjam (lagi) tapi beda orang—kalau laptopnya gak mati-mati, ubah aja ke waktu
normal, ya. Tutor di TikTok banyak, kok.
***
Setelah acara closing, saya pribadi tidak bisa langsung tidur.
Karena harus menyalin semua dokumentasi di hari itu dari memori ke laptop, dan
mengunggahnya ke drive. Bayangkan, dengan keadaan mata mengantuk, menunggu
proses unggah foto sebesar 5 GB ke drive malam-malam di depan balai. Saya dengan
tanpa sadar beranjak ke kamar dan tidur. Subuh disaat bangun, saya kaget karena
laptop masih di posisi yang sama saat saya mengunggah foto—saya kira sudah saya
bawa masuk ke kamar.
“Bee, kak Alan. Laptopnya ditinggal di luar, orangnya tidur,”
celetuk salah seorang panitia. Saya hanya bisa heran, gak habis pikir.
Syukurnya proses unggah itu selesai tanpa error—bayangkan kalau error,
saya harus ulang proses itu sekali lagi—dan laptopnya dalam keadaan dingin
karena ‘tidur’ di luar semalaman. Untung gak mimisan kayak saya, ya.
Kamera sewaan itu kami pulangkan terlebih dahulu, karena batas
waktu pengembalian pukul delapan pagi. Kami titipkan ke rekan yang pulang
setelah subuh.
Sisanya adalah sayonara dan pulang.
Kami melingkar, saling merangkul. Beberapa panitia menyampaikan
pesan dan kesan. Meminta maaf, berterima kasih. Menyampaikan hal yang membuat
sepuluh hari itu terlipat menjadi kalimat sendu.
“Mungkin ada kesan dan pesan dari panitia lain?” ucap salah seorang
dinamisator. Saya mengangkat tangan, meraih microphone dan berdiri di tengah
lingkaran.
Pertama yang terlintas saat saya mengangkat tangan adalah, saya
ingin klarifikasi bahwa saya bukan angkatan 25. Karena ada beberapa momen saya
dipanggil ‘dek’ oleh beberapa panitia. Wajar sih, karena saya memang pertama
kali bergabung dalam kepanitiaan. Tapi, lama-lama saya sadar, ada sesuatu lain
yang sepertinya penting saya utarakan.
Saya menaruh harap yang besar, kepada siapapun nanti yang akan
melakukan hal serupa. Termasuk adik-adik di divisi PDD. Jadikan semuanya
pembelajaran. Banyaknya koreksi saat pelaksanaan kemarin, cukup untuk kalian jadikan
bahan evaluasi.
Saya tetap makhluk hidup yang lebih memilih beraktivitas sendiri
saat liburan. Rebahan, scroll, jajan. Hitung-hitung membayar waktu tenang yang
diambil oleh kesibukan perkuliahan. Tapi, saya menikmati sepuluh hari saya
bersama mereka. Saya enjoy, bertemu dengan orang-orang yang entah kenapa mau tertawa
dengan lelucon-lelucon garing yang saya lemparkan.
Saat sayonara selesai, saya tak langsung ikut pulang seperti panitia-panitia
yang bawa motor. Kebetulan bis rombongan juga belum datang, jadi saya masuk
kamar dan tidur. Berharap bisa melunasi tidur semalam yang hanya beberapa jam
itu. Entahlah selang beberapa waktu, saya dibangunkan oleh salah seorang
panitia.
“Boh, mayuh se moleyah, Lan,” katanya. Saya segera cuci muka dan
bersiap-siap.
Setelah berpamitan dengan warga-warga yang ada di balai desa—termasuk
teman saya ada yang pamit salaman sama semua kuli bangunan yang sedang kerja—saya
mengekori bis rombongan dari belakang.
Kami pulang.
***
Sebenarnya, waktu itu saya tidak langsung pulang ke rumah. Saya berniat—bahkan
sebelum berangkat ke SIF—akan mampir ke tempat pengabdian saya pada tahun 2023
lalu. Tidak banyak yang dilakukan di sana. Saya bertemu dengan teman-teman
lama, anak-anak, warga dan tetangga, serta sowan ke kyai. Mendengar cerita-cerita
yang sudah lama saya lewatkan.
Siang sampai di pengabdian, malamnya menginap. Saya pulang sore di
keesokan harinya. Lagi-lagi saya membelah jalan pantura dengan pengalaman
berharga. Berharga? Ya, tentu. Makanya saya tulis sepuluh hari tadi jadi cerita
sepanjang dua ribu kata lebih ini. Soalnya kalau cuma caption Instagram gak
puas, ya kan.
Oh ya. Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada tim
PDD. Khafi, Rosa, Kania, Dina. Yang telah mau sama-sama berproses,
mendokumentasikan sepuluh hari yang penuh suka-duka. Entahlah, kalian baca
tulisan ini atau tidak. Tapi yang jelas, saya akan mimisan setiap hari kalau
tidak ada kalian. Haha. (Ketawa aja, meski garing)
(seharusnya kita menang dua lomba di sini)
Untuk ketua panitia, terima kasih sudah menjadi salah satu orang
yang paling sering saya temui selama sepuluh hari kemarin. Dari berangkat duluan,
bersih-bersih lokasi, persiapan acara, sampai hal-hal kecil yang mungkin sudah
lupa. Terima kasih sudah mau bertanggung jawab atas acara yang isinya puluhan
manusia dengan isi kepala dan kepentingan yang berbeda-beda. Saya sendiri
mungkin belum tentu sanggup kalau berada di posisi itu. Kalau selama perjalanan
saya pernah bikin repot, mohon maaf. Kalau tidak pernah, ya berarti aman. Kita
anggap saja begitu.
Untuk ketua umum, terima kasih sudah mempercayakan kami untuk ikut
mengambil bagian dalam SIF ini. Saya tidak tahu apakah keputusan mengajak saya
masuk PDD waktu itu termasuk keputusan yang bagus atau malah keputusan yang
agak berisiko. Tapi setidaknya, saya menikmati sepuluh harinya. Dan saya
pulang membawa sesuatu yang mungkin tidak saya dapat kalau waktu itu saya
memilih rebahan di rumah.
Dan untuk seluruh panitia dan volunteer SIF 2026, terima kasih sudah menjadi bagian dari sepuluh hari yang akhirnya saya tulis sepanjang ini. Terima kasih untuk tawa, capek, rapat malam, koreksi, dan semua hal random yang terjadi di sela-selanya. Kita mungkin datang dengan divisi dan jobdesk masing-masing, tetapi pada akhirnya pulang membawa cerita yang sama. Kalau selama sepuluh hari kemarin ada perkataan atau perbuatan saya yang kurang berkenan, saya minta maaf. Kalau ada lelucon saya yang garing dan tetap kalian tertawakan, terima kasih sudah menghargai usaha saya. Itu juga bagian dari pengabdian, kayaknya.
Sampai ketemu di cerita berikutnya. Entah sebagai panitia, peserta,
atau sebatas orang yang kebetulan berpapasan di jalan. Yang jelas, sepuluh hari
kemarin sudah selesai. Tinggal fotonya yang masih numpuk hampir 30 GB di Google
Drive.
(as a operator) (sebelum ninggalin laptop tidur) (yapping) (bersama ketua umum dan ketua panitia) (jarkom fradiksi uin madura) (absolute team. pdd sif 2026)

Ceritanya ringan dan santai, pemilihan katanya pas dan cocok untuk pembaca gen Z, emang nggk usah di ragukan lagi, panutan sekaligus guru dari dulu👏🏻
BalasHapusterimakasih sudah mampir. Semoga nasi mejikommu selalu pulen, dan jemuranmu tidak kehujanan.
HapusKEREN TERHURA AMAY🙀
BalasHapussemoga ga ikutan mimisan ya..
HapusKeren kak, Harus buka kelas latian menulis gratis ini
BalasHapusbowle, sama-sama belajar yuk. jas kol mi enitaym
Hapus