Langsung ke konten utama

Saya Akan Mimisan Setiap Hari Kalau Tidak Ada Kalian: Catatan SIF 2026

Ruas jalan kabupaten ramai oleh lalu lalang kendaraan. Masyarakat beraktivitas mengisi sore hari dengan jogging, jajan, atau hanya sekedar ngobrol santai di trotoar. Apalagi di area taman pendopo Ronggosukowati, pedagang kaki lima berjejer menunggu pembeli.

Waktu itu, saya dan panitia V-Fest—yang notabene-nya adalah teman kelas KPI—sedang mempersiapkan acara closing ceremony di peringgitan pendopo Ronggosukowati. Kami menata kursi, memasang banner, pameran foto, meja check-in, menggelar karpet merah, dekorasi bunga dan lainnya. Saat sedang khusyuk prepare itu, saya dipanggil oleh salah seorang teman, katanya ada yang ingin bertemu.

“Lan, ada yang punya perlu. Sana ke musholla,” ucap teman saya. Sekilas saya masih melanjutkan pekerjaan, sedikit mengabaikan panggilan itu.

Hingga beberapa menit setelahnya, Mufti—orang yang jarang ngobrol dengan saya (kecuali ada hal penting)—datang dan mengajak saya segera ke musholla samping pendopo. Terpaksa saya kesampingkan pekerjaan dan berjalan mengekor Mufti dari belakang.

Sesampainya di musholla, saya melihat dua orang yang duduk bersila rapi di teras. Mereka adalah kakak tingkat dan teman saya di salah satu organisasi mahasiswa penerima bantuan KIP-Kuliah. Kami menyebutnya Fradiksi. Saya duduk dan bersalaman, dalam hati masih mengira-ngira, ‘apa yang membawa mereka ke sini?’

Dialog persisnya saya lupa, tapi yang jelas, saya dan Mufti diajak untuk bergabung dalam kepanitiaan sebuah acara bernama Social Inspiration of Fradiksi. FYI, kegiatan ini adalah pengabdian mahasiswa Fradiksi kepada masyarakat selama sepuluh hari, dalam rangka mengisi waktu liburan agar tetap produktif. Itu definisi versi saya ya, BPH Fradiksi bisa mengoreksi itu di kolom komentar atau japri WA saya kalau itu salah. (itupun kalau mereka baca tulisan ini)

Ajakan itu tidak langsung kami—saya dan Mufti—iyakan. Di titik tertentu, saya masih lelah mengurus V-Fest dan berniat akan rebahan setelah event lomba ini selesai. Jujur, saya pribadi tipe makhluk hidup yang lebih memilih beraktivitas sendiri saat liburan. Rebahan, scroll, jajan. Hitung-hitung membayar waktu tenang yang diambil oleh kesibukan saat kampus masuk.

Menerima ajakan ini berarti saya siap untuk kembali dikejar, mengejar dan terkejar oleh deadline. Mufti juga begitu, dia masih ragu karena kami berdua adalah anggota yang tidak memiliki pengalaman. Sedangkan posisi yang ditawarkan oleh dua orang tamu ini cukup penting. Mufti sebagai CO keamanan, dan saya CO PDD. Emezing. Bagaimana kami akan mengarahkan anggota, sedangkan kami sendiri belum terarah?

Tapi setelah sekian pergolakan pikiran terjadi, saya berpikir bahwa mungkin ini sudah saatnya saya bergabung bersama mereka. Karena bagi angkatan 24, kegiatan ini adalah kegiatan terakhir. Saya pun menerima ajakan itu.

Mufti? Dia malah dengan nada bercanda bilang, ‘kalau Alan ikut, saya juga ikut’ kami tertawa bersama.

“Tenang, bang. Kami sudah pilihkan anggota yang jago-jago, biar kamu gak kesulitan,” ucap salah satu dari tamu kami. Saya membalas dengan tersenyum, sembari mengamini ucapannya dalam hati.

Keesokan harinya diadakan pemetakan panitia SIF 2026, dan kami berdua tidak bisa ikut karena bertepatan dengan closing ceremony V-Fest. Acara kelas kami sendiri.

***

Rapat demi rapat dilakukan. Saya bertemu dengan tim PDD yang akan membersamai dalam dokumentasi selama acara ini berlangsung. Sebagian orangnya saya kenal, sebagian besar lainnya wajah baru. Saya mencoba menjalin komunikasi yang baik dengan mereka, berharap bisa menjadi tim yang solid dan bisa melakukan yang terbaik untuk acara ini.

Pertama yang kami bahas dalam divisi adalah pembagian jobdesk. Saya coba mengonfirmasi semua anggota untuk mengadakan rapat internal, dan alhamdulillah terlaksana. Sayangnya, tidak keseluruhan anggota berkenan melanjutkan. Maksudnya, sebagian orang dari anggota divisi kami mengundurkan diri dengan alasan tertentu. Dengan berat hati, kami melanjutkan tugas dengan jumlah anggota divisi lima orang.

Tidak masalah. Fradiksi membuktikan ucapannya dengan memberikan saya anggota yang sudah siap tempur. Kami sudah bekerja bahkan saat acara belum dimulai. Dokumentasi setiap rapat, konten video, pamflet, launching logo, videotron, twibbon, desain banner, dan lainnya.

“Mari dibagi, siapa yang akan ikut ke lokasi duluan sama yang dokumentasi pemberangkatan,” kami diminta untuk berpencar. Tim humas dan ketua panitia akan berangkat sehari sebelum rombongan untuk mempersiapkan lokasi. Dari divisi kami juga diminta perwakilan, katanya untuk memasang banner selamat datang.

“Saya di kampus, kak,”

“Saya di kampus juga, soalnya gak bawa sepeda motor”

Begitulah bunyi-bunyian di grup internal saat ditanya siapa yang mau ke lokasi duluan sama yang akan dokumentasi pemberangkatan.

“Oke, saya yang ke tempat duluan kalo gitu,” jawab saya. Saya mempersiapkan semuanya lebih awal. Packing. Lalu sehari sebelum rombongan berangkat, saya sudah meluncur membelah jalur pantura lebih dulu bersama ketua panitia dan tim humas. Dokumentasi saat pemberangkatan nanti saya pasrahkan ke tim yang ikut rombongan.

Kurang lebih dua jam perjalanan—karena masih istirahat salat di pertengahan jalan—akhirnya kami sampai di lokasi, yang selama sepuluh hari ke depan akan kami tempati. Untuk sementara, barang-barang kami taruh di dalam balai desa. Setelah itu, kami mulai bersih-bersih kamar yang kemudian akan dijadikan tempat beristirahat untuk hari-hari ke depannya.

Keesokan harinya, rombongan yang berangkat dari kampus itu datang. Dua unit bis mini dan satu mobil pribadi terparkir, menurunkan penumpang yang sepertinya dalam keadaan kepala pusing, mata mengantuk, sakit pinggang. Semuanya diarahkan ke kamar yang sudah disiapkan, diharapkan untuk beristirahat. Siapkan tenaga. Nanti malam akan langsung bekerja untuk opening acara.

 Menjelang malam, panitia mempersiapkan panggung, terop, dan kebutuhan opening lainnya. Tercatat hingga adzan maghrib berkumandang, kami masih berkutat di halaman balai untuk menyelesaikan persiapan itu.

Long story short, opening ceremony—asumsi saya—berjalan dengan lancar. Tim PDD juga saling bahu-membahu mendokumentasikan acara, baik foto ataupun video. Meski ada kendala, kendala-kendala yang terjadi bisa diatasi dengan cepat dan terarah. Termasuk saat pembacaan mars yang sempat tiba-tiba ter-pause, karena laptop ter-sleep dengan sendirinya. Saya—yang kebetulan bertugas di operator—langsung klarifikasi hal itu di rapat evaluasi. Clear. Saat sesudah pembacaan mars itu, saya ubah screen time laptop ke never, yang artinya layar akan tetap hidup.

Saya lupa mengubahnya kembali ke waktu normal. Jadi, yang punya laptop—karena saya emang pinjam—mungkin akan kebingungan, ‘ini kenapa layar gak mati-mati sih?!’ sori ya. Ubah lagi aja, tutor di TikTok banyak.

Selesai beres-beres, saya nimbrung bersama teman-teman di atas panggung. Hingga tidak terasa saya ketiduran di sana. Dengan kondisi cuaca yang dingin dan hanya berbekal jaket tipis, bangun subuh saya kaget karena hidung saya keluar darah. Ternyata ini mimisan—yang awalnya saya kira ada nyamuk mati di dalam hidung—saya segera ke kamar mandi untuk membersihkan.

***

Secara garis besar, ada beberapa kegiatan yang kami lakukan saat SIF ini. Semua kegiatan sudah tercantum dalam rundown yang dibuat oleh divisi keacaraan. Dan divisi PDD mendapatkan special task—artinya bisa searching di Google—yaitu mendokumentasikan tidak hanya kegiatan inti, tapi semua bentuk aktivitas yang dilakukan saat SIF berlangsung.

Itu bertujuan untuk menyimpan momen agar bisa dijadikan kenangan di kemudian hari, untuk bahan kami membuat after movie juga, dan bentuk tanggung jawab PDD ke semua panitia (khususnya bendahara), karena rencana anggaran biaya atau RAB PDD menempati terbesar kedua setelah divisi konsumsi.

Dalam benak panitia lain mungkin gini, ‘PDD gaboleh gitu-gitu aja, kalian ngabisin banyak duit.’ Saat mengetahui anggaran kami terbesar kedua, saya dan tim PDD mencoba tersenyum manis, sembari dalam hati dag-dig-dug menahan beban sosial itu. Haha.

Dokumentasi kami mulai dari pagi. Salat berjamaah, kami potret muka-muka ngantuk itu. Lalu lanjut saat bersih-bersih, saat divisi transportasi memanaskan motor, sarapan, mengajar ke sekolah-sekolah, pengabdian ke masyarakat, hingga diskusi kelompok. Termasuk saat program khusus—ya, saya menyebutnya begitu—seperti santunan anak yatim, seminar pendidikan, seminar pertanian, lomba-lomba dan jariyatul masjid. Semua tidak luput dari sorotan kamera PDD yang memakan anggaran acara itu.

Untuk menyimpan semua foto kegiatan selama sepuluh hari, tentunya dibutuhkan penyimpanan yang besar. Untungnya akun mahasiswa saya pernah didaftarkan dalam promo uji coba Google AI Pro tahun lalu. Saya mendapatkan gratis penyimpanan 5 TB selama 12 bulan. Itulah yang saya gunakan untuk menyimpan semua foto-foto kalian para panitia SIF. Bilang terima kasih dulu sama Google, ya.

Masalahnya, itu sudah sejak bulan September 2025 lalu. Artinya apa? Artinya adalah, September depan saya akan ditagih oleh Google untuk membayar karena masa uji coba sudah habis. Jujur, saya agak parno memikirkannya—bukan soal duit, tapi karena dalam drive itu ada sepuluh hari yang kami kumpulkan dengan penuh suka-duka, ada momen-momen manis dan berharga. Kalau saya tidak bayar, segera backup semua foto-foto kalian ya. Ucapkan selamat tinggal pada semua dokumentasi yang hampir 30 GB itu. Huhu.

***

Setiap malam sebelum tidur, seluruh panitia mengadakan rapat evaluasi. Seluruh kegiatan dari pagi hingga malam dilimpahkan dalam satu majelis itu. Segala bentuk kekurangan, koreksi, tanggung jawab, dikeluarkan dan dibahas bersama. Berharap menjadi batu loncatan untuk perubahan di esok harinya.

Setiap rapat evaluasi itu berlangsung, saya tidak terlalu merasa terbebani. Saya memiliki tim yang baik, semua jobdesk dikerjakan dengan terarah dan harusnya memuaskan. Jika terjadi kesalahan—lalu ada yang mengevaluasi—tinggal kami angguki, besoknya kami perbaiki. Clear. Tak perlu ada drama tidak terima. Selama masih bisa ditanggapi dengan tenang, kami bisa menerima semua bentuk evaluasi dengan hati senang.

Kurang lebih lima hari sebelum malam penutupan, saya dan tim PDD mulai membahas video core dan after movie. Dengan arahan dari SC PDD dan referensi dari berbagai sumber, kami menghubungi dua panitia dari divisi lain untuk turut menjadi talent dalam proyek after movie ini. Dengan script sederhana, scene dalam adegan pembuka dan penutup selesai diambil. Meski sempat terpotong waktu, karena saya jatuh sakit.

Alhamdulillah, semuanya berjalan aman. Video core yang kami buat berisi tingkah kocak dan aib panitia serta volunteer. Sedangkan after movie untuk meng-call back semua kegiatan kami, mulai dari pemberangkatan hingga hari terakhir. Kami bisa menyelesaikan dua proyek video itu dengan tepat waktu dan berhasil diputar saat malam closing.

Closing ceremony—asumsi saya—berjalan dengan lancar. Tim PDD juga saling bahu-membahu mendokumentasikan acara, baik foto ataupun video. Saya—yang bertugas di operator lagi—tidak mau kesalahan saat pembacaan mars terulang kembali. Sebelum acara dimulai, saya langsung mengubah screen time laptop ke never. Dan lagi-lagi saya lupa mengubahnya ke waktu normal.

Jadi, untuk siapapun yang punya laptop kemarin—karena saya memang pinjam (lagi) tapi beda orang—kalau laptopnya gak mati-mati, ubah aja ke waktu normal, ya. Tutor di TikTok banyak, kok.

***

Setelah acara closing, saya pribadi tidak bisa langsung tidur. Karena harus menyalin semua dokumentasi di hari itu dari memori ke laptop, dan mengunggahnya ke drive. Bayangkan, dengan keadaan mata mengantuk, menunggu proses unggah foto sebesar 5 GB ke drive malam-malam di depan balai. Saya dengan tanpa sadar beranjak ke kamar dan tidur. Subuh disaat bangun, saya kaget karena laptop masih di posisi yang sama saat saya mengunggah foto—saya kira sudah saya bawa masuk ke kamar.

“Bee, kak Alan. Laptopnya ditinggal di luar, orangnya tidur,” celetuk salah seorang panitia. Saya hanya bisa heran, gak habis pikir.

Syukurnya proses unggah itu selesai tanpa error—bayangkan kalau error, saya harus ulang proses itu sekali lagi—dan laptopnya dalam keadaan dingin karena ‘tidur’ di luar semalaman. Untung gak mimisan kayak saya, ya.

Kamera sewaan itu kami pulangkan terlebih dahulu, karena batas waktu pengembalian pukul delapan pagi. Kami titipkan ke rekan yang pulang setelah subuh.

Sisanya adalah sayonara dan pulang.

Kami melingkar, saling merangkul. Beberapa panitia menyampaikan pesan dan kesan. Meminta maaf, berterima kasih. Menyampaikan hal yang membuat sepuluh hari itu terlipat menjadi kalimat sendu.

“Mungkin ada kesan dan pesan dari panitia lain?” ucap salah seorang dinamisator. Saya mengangkat tangan, meraih microphone dan berdiri di tengah lingkaran.

Pertama yang terlintas saat saya mengangkat tangan adalah, saya ingin klarifikasi bahwa saya bukan angkatan 25. Karena ada beberapa momen saya dipanggil ‘dek’ oleh beberapa panitia. Wajar sih, karena saya memang pertama kali bergabung dalam kepanitiaan. Tapi, lama-lama saya sadar, ada sesuatu lain yang sepertinya penting saya utarakan.

Saya menaruh harap yang besar, kepada siapapun nanti yang akan melakukan hal serupa. Termasuk adik-adik di divisi PDD. Jadikan semuanya pembelajaran. Banyaknya koreksi saat pelaksanaan kemarin, cukup untuk kalian jadikan bahan evaluasi.

Saya tetap makhluk hidup yang lebih memilih beraktivitas sendiri saat liburan. Rebahan, scroll, jajan. Hitung-hitung membayar waktu tenang yang diambil oleh kesibukan perkuliahan. Tapi, saya menikmati sepuluh hari saya bersama mereka. Saya enjoy, bertemu dengan orang-orang yang entah kenapa mau tertawa dengan lelucon-lelucon garing yang saya lemparkan.

Saat sayonara selesai, saya tak langsung ikut pulang seperti panitia-panitia yang bawa motor. Kebetulan bis rombongan juga belum datang, jadi saya masuk kamar dan tidur. Berharap bisa melunasi tidur semalam yang hanya beberapa jam itu. Entahlah selang beberapa waktu, saya dibangunkan oleh salah seorang panitia.

“Boh, mayuh se moleyah, Lan,” katanya. Saya segera cuci muka dan bersiap-siap.

Setelah berpamitan dengan warga-warga yang ada di balai desa—termasuk teman saya ada yang pamit salaman sama semua kuli bangunan yang sedang kerja—saya mengekori bis rombongan dari belakang.

Kami pulang.

***

Sebenarnya, waktu itu saya tidak langsung pulang ke rumah. Saya berniat—bahkan sebelum berangkat ke SIF—akan mampir ke tempat pengabdian saya pada tahun 2023 lalu. Tidak banyak yang dilakukan di sana. Saya bertemu dengan teman-teman lama, anak-anak, warga dan tetangga, serta sowan ke kyai. Mendengar cerita-cerita yang sudah lama saya lewatkan.

Siang sampai di pengabdian, malamnya menginap. Saya pulang sore di keesokan harinya. Lagi-lagi saya membelah jalan pantura dengan pengalaman berharga. Berharga? Ya, tentu. Makanya saya tulis sepuluh hari tadi jadi cerita sepanjang dua ribu kata lebih ini. Soalnya kalau cuma caption Instagram gak puas, ya kan.

Oh ya. Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada tim PDD. Khafi, Rosa, Kania, Dina. Yang telah mau sama-sama berproses, mendokumentasikan sepuluh hari yang penuh suka-duka. Entahlah, kalian baca tulisan ini atau tidak. Tapi yang jelas, saya akan mimisan setiap hari kalau tidak ada kalian. Haha. (Ketawa aja, meski garing)

(seharusnya kita menang dua lomba di sini)

Untuk SC PDD, bu Cinta. Terima kasih telah membersamai kami selama acara (termasuk juga traktirannya kemarin, aw). Mohon maaf kalau saya pribadi sempat salah. Termasuk yang tidak memasukkan anda ke grup WA internal PDD, itu murni karena saya tidak tahu kalau SC juga masuk grup internal. Jadi, gak perlu diungkit-ungkit lagi, ini sudah klarifikasi saya yang ketiga kalinya, loh.

Untuk ketua panitia, terima kasih sudah menjadi salah satu orang yang paling sering saya temui selama sepuluh hari kemarin. Dari berangkat duluan, bersih-bersih lokasi, persiapan acara, sampai hal-hal kecil yang mungkin sudah lupa. Terima kasih sudah mau bertanggung jawab atas acara yang isinya puluhan manusia dengan isi kepala dan kepentingan yang berbeda-beda. Saya sendiri mungkin belum tentu sanggup kalau berada di posisi itu. Kalau selama perjalanan saya pernah bikin repot, mohon maaf. Kalau tidak pernah, ya berarti aman. Kita anggap saja begitu.

Untuk ketua umum, terima kasih sudah mempercayakan kami untuk ikut mengambil bagian dalam SIF ini. Saya tidak tahu apakah keputusan mengajak saya masuk PDD waktu itu termasuk keputusan yang bagus atau malah keputusan yang agak berisiko. Tapi setidaknya, saya menikmati sepuluh harinya. Dan saya pulang membawa sesuatu yang mungkin tidak saya dapat kalau waktu itu saya memilih rebahan di rumah.

Dan untuk seluruh panitia dan volunteer SIF 2026, terima kasih sudah menjadi bagian dari sepuluh hari yang akhirnya saya tulis sepanjang ini. Terima kasih untuk tawa, capek, rapat malam, koreksi, dan semua hal random yang terjadi di sela-selanya. Kita mungkin datang dengan divisi dan jobdesk masing-masing, tetapi pada akhirnya pulang membawa cerita yang sama. Kalau selama sepuluh hari kemarin ada perkataan atau perbuatan saya yang kurang berkenan, saya minta maaf. Kalau ada lelucon saya yang garing dan tetap kalian tertawakan, terima kasih sudah menghargai usaha saya. Itu juga bagian dari pengabdian, kayaknya.

Sampai ketemu di cerita berikutnya. Entah sebagai panitia, peserta, atau sebatas orang yang kebetulan berpapasan di jalan. Yang jelas, sepuluh hari kemarin sudah selesai. Tinggal fotonya yang masih numpuk hampir 30 GB di Google Drive.

(as a operator)

(sebelum ninggalin laptop tidur)

(yapping)

(bersama ketua umum dan ketua panitia)

(jarkom fradiksi uin madura)

(absolute team. pdd sif 2026)

Komentar

  1. Ceritanya ringan dan santai, pemilihan katanya pas dan cocok untuk pembaca gen Z, emang nggk usah di ragukan lagi, panutan sekaligus guru dari dulu👏🏻

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih sudah mampir. Semoga nasi mejikommu selalu pulen, dan jemuranmu tidak kehujanan.

      Hapus
  2. KEREN TERHURA AMAY🙀

    BalasHapus
  3. Keren kak, Harus buka kelas latian menulis gratis ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. bowle, sama-sama belajar yuk. jas kol mi enitaym

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Punya Temen Polos dan Bisu, Namanya...

Saya suka menulis diary. Bukan yang habis makan pedes-pedes terus ke toilet itu ya, itu diare. Ini diary, atau catatan harian. Dalam catatan itu saya bercerita tentang kegiatan keseharian saya yang ragam suka dan duka. Karena waktu itu saya masih di pesantren, maka dengan padatnya kegiatan di sana saya berusaha menyempatkan diri menulis pada sore hari sebelum maghrib berkumandang. Habis mandi sekitar jam 4 sore (yang kemudian oleh keluarga saya dikomen, ‘apa gak terlalu awal kamu mandinya?’) saya akan ganti baju dan bersiap ke pasarean. Karena tidak bisa mengaji ke pasarean 3 kali sehari, maka yang satu ini sangat-sangat saya usahakan. Nah habis dari pasarean itu saya ke masjid dan duduk di tempat istiqomah, bersandar pada pilar masjid atau orang Madura biasa menyebutnya ‘Pang-pang’. (Padahal di sisi lain ‘Pang-pang’ juga nama jajan. Tapi pang-pang yang ini gak bisa dimakan. Emang ada yang makan pilar masjid?) setelah duduk, saya membuka buku diary dan mulai menulis catatan...

Awal Mulanya Suka Menulis

Saya menyukai dunia tulis menulis sejak masih berada di pesantren. Pada tahun 2017, saya dihantarkan oleh keluarga dan beberapa tetangga naik bus mini ke pondok pesantren dimana saya akan menimba ilmu. Saya mondok berdua dengan teman. Tapi di pertengahan tahun kedua dia berhenti dan saya hidup sendirian tidak memiiki teman yang sekampung. Sedih, tapi saya tidak mau gugur hanya karena alasan itu. Saya sekamar dengan teman-teman yang notabene-nya berasal dari pantura. Ada dari Tamberu, Karang Anyar, Ketapang, Sokobanah dan lain-lain. Maka tidak heran jika pernah sesekali saya dianggap berasal dari tempat yang sama dengan mereka. Padahal yang bilang itu rumahnya dekat dengan saya. Saya cukup dekat dengan orang Karang Anyar yang sekamar dengan saya waktu itu. Ada kak Badrut, kak Naqib, kak Sholeh dan beberapa lainnya yang sudah agak lupa karena memang ini sudah lama sekali. Di suatu saat, saya tak sengaja membaca buku milik kak Badrut, dan waktu itu orangnya sedang tidak ada. Kebetulan ada...

Antara Tarawih yang Maju dan Tugas Kuliah yang Tak Kenal Waktu

Beberapa hari sebelum ramadhan tiba, saya kepikiran ingin membuat projek menulis selama ramadhan, 1 hari 1 tulisan, hitung-hitung menguji diri sendiri. Saya sudah meminta AI untuk bantu membuat konsep, termasuk apa saja yang akan saya tulis setiap harinya. Tapi, kamu tau apa yang terjadi? Sebelum masuk ramadhan pun saya sudah diberi projek menulis makalah oleh dosen. Emejing . AI-nya pun geleng-geleng mengetahui hal ini. Ternyata Tuhan langsung memberi saya projek yang lebih cepat daripada yang saya rencanakan. Dengan tugas makalah yang saya dapat itu tentunya projek 1 hari 1 tulisan dalam versi saya sendiri berubah menjadi 1 hari 1 jeritan. Ayo coba bayangkan, setelah libur semester yang beberapa bulan itu, pertemuan pertama langsung pemberian tugas dan pertemuan kedua langsung presentasi makalah. Pertemuan kedua itu adalah hari keempat dari kick off bulan puasa. Tapi, Alhamdulillah semuanya berjalan ”lancar” dan saya bersyukur karena 12 pertemuan tersisa saya hanya perlu hadir kelas ...

Ini Bukan Sekedar Konten-Kontenan

Halo semua. Ini kali kesekian saya berbagi tulisan di blog, setelah waktu tersita oleh hal-hal lain yang lebih penting seperti kuliah, tugas, dan acara. Hingga hal-hal lainnya yang dibuat seakan-akan penting seperti scroll medsos dan nonton dangdut Indosiar. Duh. Pada akhirnya, konsisten nulis hanyalah wacana. Dunia perkuliahan mengenalkan saya pada banyak hal yang sebelumnya memang saya sudah penasaran, bagaimana orang-orang bisa tampil di dunia digital dengan personanya masing-masing? Rasa penasaran itu akhirnya terjawab oleh tugas-tugas kuliah yang salah satunya adalah memanfaatkan media digital. Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan segala dinamika kehidupan saat ini, tentu sangat relevan dengan media digital seperti YouTube, Instagram, dan lainnya. Karena orang-orang sekarang ngumpulnya di sana semua, jadi dalam penyebaran dakwah pun kita harus terus relevan dengan zaman. Hal itu yang kemudian membuat saya dan teman-teman kelas diajak untuk mencoba dan mengetahui bagaimana dunia...

Hilang untuk Healing: Tiga Hari yang Mengajarkan Arti Pulang

  Meja-meja terisi pelanggan. Satu-dua kelompok bermain domino, menonton pertandingan sepak bola, mengobrol sambil sesekali menyeruput kopi. Setelah seharian beraktivitas, orang-orang kelelahan ini bertemu untuk saling berbagi rasa semangat, lalu saling mengingatkan bahwa besok kita masih hidup dan akan berjuang lagi. Ini sebuah awal dari tiga hari yang bermakna dalam perjalanan hidup kami. Hari di mana kami sadar tentang pentingnya solidaritas dan relasi. Semua dimulai di warung kopi, tempat saya dan teman-teman melepas penat dari kesibukan perkuliahan. Melihat betapa membosankannya libur kuliah yang hanya diisi keluar masuk warung kopi, kami merencanakan pelarian ke Yogyakarta. Niat hati agar bisa refreshing dan sesekali ke luar Madura. Kami—Alan, Ikhtiar, Adan, dan Fikri—sudah saling mengenal di pesantren sejak tahun 2022, yang kemudian bertemu kembali dalam satu almamater yang sama, UIN Madura. Rencana ini kami beri nama Hilang untuk Healing. Saya urus rencana perjalanan, A...

Konsekuensi yang Harus Diterima

Selama enam tahun belajar di pesantren dan setahun mengabdi di salah satu lembaga di daerah pantura di Pamekasan, saya mendapat konsekuensi yang memang seharusnya saya terima. Interaksi saya dengan teman-teman di sekitaran rumah ini menjadi berkurang dan lambat laun menjauh dengan alasan kesibukan masing-masing. Padahal sebelum tahun 2017, semua itu terasa sangat indah dan menyenangkan. Kami kemana-mana bersama, menghabiskan akhir pekan di alun-alun, mandi di sungai saat jam istirahat madrasah, main PS kelamaan sampai orangtua marah sambil mengangkat sapu bilang, ‘Main PS mloloh, pas ta’ engak se moleyah!!’ Seiring berjalannya waktu, semua itu hanya menjadi kenangan semata. Sekarang kita bisa saja membeli 10 bola plastik di warung, tapi kita tidak bisa membeli momen keseruan kita saat bermain bola waktu kecil. Itu mahal sekali, dan tidak ada satupun warung yang menjualnya. Kalau memang ada, sepertinya warung itu akan jadi saingan Warung Madura yang buka 24 jam yang katanya...

Menolak Arus, Menjemput Tenang: Mengapa Saya Tidak Perlu Menjelaskan Alasan ke Banyak Orang

  Saat ini, saya sedang ada di kondisi menolak sekian tawaran dari orang untuk melakukan sesuatu. Kecuali projek desain dan info ngopi dari sobat karib. Tentunya ini masalah kepentingan, baik individu atau kelompok. Kalau teman-teman saya membaca ini, saya yakin mereka paling tidak bisa menebak arahnya kemana. Dari hati yang dalam (ya, gak terlalu dalam banget sih), manusia berhak membuat pilihan. Karena saya manusia, orang-orang itu juga manusia, semuanya berhak untuk hal yang sama. Jadi, semua ini hanya tentang menghormati pilihan manusia lain saja. Pastinya, segala sesuatu terjadi karena ada alasan yang mendasari. Saya ngulik Corel sampe tengah malam alasannya karena ada projek. Pak ustad pagi-pagi habis subuh baca nama-nama almarhum di toa masjid, itu karena ada khotmil qur’an. Beberapa waktu lalu, orang-orang sengaja nunda sholat Isya karena mau nonton Valen DA7. Tapi apakah alasan-alasan itu harus semua orang tau? Yah, bisa jadi memang penting untuk semua orang tau. Orang...

Dari Pesantren ke Kampus: Adaptasi, Drama Maba sampai Dosen Baik Hati

Setelah boyong dari pesantren, saya sudah memantapkan diri melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Dengan berbagai banyak tahapan, termasuk saya yang ditawarkan untuk kembali ke pesantren dan drama tidak lulus masuk seleksi kampus jalur Mandiri Prestasi. Saya kembali mendaftar di jalur UM-PTKIN dan syukurnya lulus. Masuklah ke dunia perkuliahan. Berkenalan dengan teman baru, tempat baru, aktivitas baru dan tentunya dari semua itu saya memiliki kebiasaan baru. Saya yang awalnya membuka WhatsApp hanya untuk menonton keseharian orang-orang lewat story—bahkan yang story-nya sampe menjadi titik-titik kecil berderet seperti kereta api—berubah dan bertambah, jadi disibukkan dengan grup-grup baru. Grup angkatan, grup kelas, grup matakuliah, grup angkatan yang tidak ada katingnya (yang konon dikatakan grup ini dibuat agar kita bisa sepuasnya menghujat kating yang sok keras saat ospek). Grup-grup itu ramai dengan beragam topik pembahasan. Grup angkatan yang ada katingnya berisi topik tanya-tanya ten...